Soekarno sejak awal kemerdekaan menegaskan hutan sebagai fondasi hidup dan kedaulatan bangsa.


KOSONGSATU.ID—Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sejak awal kemerdekaan menempatkan hutan sebagai penyangga utama kehidupan bangsa. Bagi Soekarno, relasi antara pangan, air, dan hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal hidup-mati negara.

Pesan itu tergambar jelas dalam pidatonya di Kongres Buruh Kehutanan, Malang, 27 September 1946. “Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air,” ujar Soekarno kala itu.

Hutan dan Kesadaran Iklim Dini

Perhatian Soekarno terhadap perubahan iklim disebut telah muncul jauh sebelum isu ini menjadi agenda global. Ajudan terakhirnya pada periode 1967–1968, Sidarto Danusubroto, menyebut Bung Karno memahami posisi Indonesia sebagai salah satu pemilik hutan tropis terbesar dunia.

Dalam webinar The Energy Talk #15 bertema Green Port Development pada 7 Juli 2022, Sidarto mengingatkan bahwa Bung Karno memandang hutan Indonesia sebagai “paru-paru dunia”, sejajar dengan Brasil dan Kongo. Pandangan serupa ia ulangi saat Festival Taman 2023 di Jakarta Timur.

“Indonesia itu aslinya hijau. Bung Karno pernah menegaskan kepada saya bahwa beliau tidak mengizinkan satu hektar hutan pun ditebang,” kata Sidarto, 8 Oktober 2023.

Hutan sebagai Pertahanan

Pakar filsafat Rocky Gerung menilai pandangan Soekarno tentang hutan melampaui fungsi ekologis. Menurutnya, Bung Karno melihat hutan sebagai sistem pertahanan negara.

“Hutan menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menyimpan potensi obat, dan menjaga keseimbangan alam. Menjaga hutan berarti menjaga perdamaian,” kata Rocky dalam sejumlah diskusi publik.

Jejak Nyata di Lapangan

Perhatian Soekarno tidak berhenti pada pidato. Ia tercatat menanam pohon di berbagai lokasi, mulai dari kompleks Badan Diklat Kejaksaan RI, Berastagi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hingga Istana Negara dan Istana Tampaksiring, Bali.

Soekarno juga terlibat dalam perancangan sabuk hijau calon ibu kota di Palangka Raya. Bahkan, ia menanam pohon di Arafah, Arab Saudi, yang kemudian dikenal sebagai Pohon Soekarno.

“Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon,” tulis Horst Henry Geerkendalam A Magic Gecko.

Gerakan pelestarian itu juga termaktub dalam Gerakan Hidup Baru, yang mencakup kebersihan dan perawatan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pesan Rakyat: Hutan dan Pangan

Pesan serupa disampaikan Soekarno saat berpidato di Trenggalek pada 1950-an. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin pernah membagikan kesaksian Mbah Tukiran, saksi pidato tersebut.

Menurut Mbah Tukiran, Bung Karno mengingatkan bahwa kelestarian hutan menentukan kesejahteraan rakyat dan kemandirian pangan. Ia merangkum pesan itu dengan ungkapan Jawa: “yen alase gundul, mboten mangan katul”—jika hutan gundul, rakyat tak bisa makan.

Paradigma Ekosentris Bung Karno

Sejarah global menunjukkan kekayaan sumber daya tidak otomatis membawa kesejahteraan. Banyak negara justru terjebak eksploitasi dan kerusakan lingkungan. Soekarno memahami risiko itu sejak awal kemerdekaan.

Dari pidato, kebijakan, hingga teladan pribadi, Soekarno menawarkan paradigma ekosentris: manusia dan alam berada dalam relasi setara. Hutan bukan objek eksploitasi, melainkan fondasi keberlanjutan bangsa dan kedaulatan rakyat.***