Pesan Rakyat: Hutan dan Pangan

Pesan serupa disampaikan Soekarno saat berpidato di Trenggalek pada 1950-an. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin pernah membagikan kesaksian Mbah Tukiran, saksi pidato tersebut.

Menurut Mbah Tukiran, Bung Karno mengingatkan bahwa kelestarian hutan menentukan kesejahteraan rakyat dan kemandirian pangan. Ia merangkum pesan itu dengan ungkapan Jawa: “yen alase gundul, mboten mangan katul”—jika hutan gundul, rakyat tak bisa makan.

Paradigma Ekosentris Bung Karno

Sejarah global menunjukkan kekayaan sumber daya tidak otomatis membawa kesejahteraan. Banyak negara justru terjebak eksploitasi dan kerusakan lingkungan. Soekarno memahami risiko itu sejak awal kemerdekaan.

Dari pidato, kebijakan, hingga teladan pribadi, Soekarno menawarkan paradigma ekosentris: manusia dan alam berada dalam relasi setara. Hutan bukan objek eksploitasi, melainkan fondasi keberlanjutan bangsa dan kedaulatan rakyat.***