Jejak Nyata di Lapangan
Perhatian Soekarno tidak berhenti pada pidato. Ia tercatat menanam pohon di berbagai lokasi, mulai dari kompleks Badan Diklat Kejaksaan RI, Berastagi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hingga Istana Negara dan Istana Tampaksiring, Bali.
Soekarno juga terlibat dalam perancangan sabuk hijau calon ibu kota di Palangka Raya. Bahkan, ia menanam pohon di Arafah, Arab Saudi, yang kemudian dikenal sebagai Pohon Soekarno.
“Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon,” tulis Horst Henry Geerkendalam A Magic Gecko.
Gerakan pelestarian itu juga termaktub dalam Gerakan Hidup Baru, yang mencakup kebersihan dan perawatan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pesan Rakyat: Hutan dan Pangan
Pesan serupa disampaikan Soekarno saat berpidato di Trenggalek pada 1950-an. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin pernah membagikan kesaksian Mbah Tukiran, saksi pidato tersebut.
Menurut Mbah Tukiran, Bung Karno mengingatkan bahwa kelestarian hutan menentukan kesejahteraan rakyat dan kemandirian pangan. Ia merangkum pesan itu dengan ungkapan Jawa: “yen alase gundul, mboten mangan katul”—jika hutan gundul, rakyat tak bisa makan.
Paradigma Ekosentris Bung Karno
Sejarah global menunjukkan kekayaan sumber daya tidak otomatis membawa kesejahteraan. Banyak negara justru terjebak eksploitasi dan kerusakan lingkungan. Soekarno memahami risiko itu sejak awal kemerdekaan.
Dari pidato, kebijakan, hingga teladan pribadi, Soekarno menawarkan paradigma ekosentris: manusia dan alam berada dalam relasi setara. Hutan bukan objek eksploitasi, melainkan fondasi keberlanjutan bangsa dan kedaulatan rakyat.***


1 Komentar