Bagi Soekarno, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang pembentuk watak—tempat kanak-kanak belajar hidup, dan negara belajar mengatur masa depannya.
KOSONGSATU.ID—Masa kecil Soekarno di Kediri berdenyut di tepi sungai. Di sanalah ia bermain, berenang, dan pulang membawa ikan kecil—hadiah sederhana untuk ibunya, hasil dari alam yang ramah bagi anak-anak yang tak punya apa-apa.
“Aku menjadikan sungai sebagai kawanku,” kenangnya, sebuah pengakuan yang jarang dikutip, namun menyimpan etika sosial yang kuat: sungai sebagai ruang publik yang adil, gratis, dan memberi.
Pengalaman itu bukan nostalgia kosong. Ia membentuk cara pandang Soekarno tentang alam sebagai bagian dari keadilan sosial. Air, baginya, bukan komoditas. Ia hak hidup—sekaligus sumber inspirasi.
Ende: Pengasingan yang Mengalir
Ketika pembuangan membawanya ke Ende (1934–1938), sungai kembali hadir sebagai penghibur. Di Sungai Nangaba, sekitar delapan kilometer dari kota, Soekarno dan kawan-kawan berendam.
Tak ada listrik, tak ada air leding. Mandi kali menjadi kebiasaan—bahkan hiburan. Ia meminta kawan-kawannya menyusun batu, membendung sebentar aliran agar air meninggi. Sebuah gestur kecil yang memperlihatkan naluri rekayasa dan kegemaran pada solusi praktis.
Dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Cindy Adams mencatat pengakuannya tentang Wola Wona—air dingin, batu-batu besar, kebun pisang, kelapa, dan jagung mengitari rumah. Bersama Inggit Garnasih, mandi di kali menjadi ritus harian. Alam, lagi-lagi, memberi rasa merdeka di tengah pengasingan.
Menyusuri Nusantara Lewat Air
Sebagai presiden, Soekarno membaca Indonesia dari aliran sungai.
Januari 1953, ia menyusuri Sungai Barito menuju Amuntai untuk Rapat Samudra—disambut ribuan rakyat.
Juli 1957, dua hari penuh ia menempuh Sungai Kahayan dari Banjarmasin ke Palangkaraya (Pahandut), menghadiri peresmian tugu ibu kota Kalimantan Tengah. Di tepi Kahayan, ribuan orang Dayak mengiringi kapal kelotoknya.
Tugu Soekarno di Palangkaraya—16 pilar kecil dan satu pilar besar dengan api di puncak—menyimpan simbol: 17 sebagai hikmah Proklamasi, segi lima sebagai Pancasila, api sebagai semangat yang tak padam.
Keesokan harinya, ia kembali ke Jakarta dengan menyusuri Kahayan hingga Kapuas. Air menjadi jalur politik—dan pengikat kebangsaan.
Infrastruktur, Air, dan Negara
Di Jatiluhur, 19 September 1965, Soekarno menegaskan proyek negara bukan milik kapitalis, melainkan rakyat. Bendungan itu—pengendali banjir, penopang pertanian, penyedia air baku—ialah kunci produktivitas.
Logika yang sama hadir pada Kalimalang, sungai buatan (1957) yang mengalirkan air Citarum ke Jakarta dan Bekasi, menembus 71 kilometer, memalang sungai-sungai alam. Air diposisikan sebagai tulang punggung kota dan desa.
Pilihan lokasi Masjid Istiqlal pun berkelindan dengan ingatan sungai. Soekarno memilih bekas benteng Frederick Hendrik dan Taman Wilhelmina—kompleks yang dibelah aliran air—alih-alih pusat permukiman di Thamrin. Ada jejak masa kecil di situ: sungai sebagai pusat hidup, bukan pinggiran.




2 Komentar