Infrastruktur, Air, dan Negara
Di Jatiluhur, 19 September 1965, Soekarno menegaskan proyek negara bukan milik kapitalis, melainkan rakyat. Bendungan itu—pengendali banjir, penopang pertanian, penyedia air baku—ialah kunci produktivitas.
Logika yang sama hadir pada Kalimalang, sungai buatan (1957) yang mengalirkan air Citarum ke Jakarta dan Bekasi, menembus 71 kilometer, memalang sungai-sungai alam. Air diposisikan sebagai tulang punggung kota dan desa.
Pilihan lokasi Masjid Istiqlal pun berkelindan dengan ingatan sungai. Soekarno memilih bekas benteng Frederick Hendrik dan Taman Wilhelmina—kompleks yang dibelah aliran air—alih-alih pusat permukiman di Thamrin. Ada jejak masa kecil di situ: sungai sebagai pusat hidup, bukan pinggiran.
Banjir, Negara Hadir
Maret 1966, banjir bandang melanda bekas Karesidenan Surakarta. Korban jiwa puluhan, luka-luka ribuan. Soekarno menetapkannya sebagai bencana nasional melalui Keppres No. 61A/1966.
Negara pusat turun tangan: anggaran ditambah, rehabilitasi digerakkan. Bagi Soekarno, air yang meluap menuntut kehadiran negara—bukan sekadar belas kasihan.
Pesan yang Mengalir ke Jakarta
Dalam pelantikan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI (28 April 1966), Soekarno bicara tegas tentang selokan, sampah, tata kota. Pejabat, katanya, harus keluar rumah saat hujan—melihat sendiri air tergenang. Kota tak boleh diurus dari meja. Kebersihan, drainase, dan pertamanan adalah urusan kepemimpinan, bukan pelengkap.
Hijaukan Hulu hingga Hilir
Warisan etika itu disuarakan kembali oleh Megawati Soekarnoputri. Tat twam asi—aku adalah kamu—diterjemahkan sebagai tanggung jawab ekologis. Pilih sungai di tiap daerah, hijaukan dari hulu ke hilir. Mata air bukan sekadar sumber; ia kehidupan.
Sejarah peradaban membenarkan pesan itu: Nil, Tigris–Efrat, Sungai Kuning, Indus—hingga Citarum dan Brantas. Sungai melahirkan peradaban. Ketika ia diabaikan, bencana mengambil alih narasi.
Dari Kediri ke Ende, dari Kahayan ke Jatiluhur, sungai mengalir sebagai benang merah dalam hidup Soekarno. Ia mengajarkan bahwa negara yang besar tak lahir dari beton semata, melainkan dari kesediaan merawat air—sejak anak-anak bermain hingga bangsa membangun.***




2 Komentar