Berbekal ikatan 1.000 tahun Nusantara-Persia, Prabowo memediasi konflik Timur Tengah setelah Iran menutup Selat Hormuz.


KOSONGSATU. ID – Ketegangan geopolitik Timur Tengah mencapai titik didih baru menyusul eskalasi konflik Iran Israel. Krisis ini memuncak usai Selat Hormuz ditutup oleh otoritas Teheran sebagai respons langsung atas serangkaian serangan dari AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Di tengah ancaman disrupsi pasokan energi global, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah proaktif. Ia berniat tampil sebagai mediator dalam krisis.

Dan sepertinya, langkah itu bukanlah sekadar manuver diplomasi biasa, melainkan cerminan dari akar persahabatan 1.000 tahun antara Nusantara dan Persia yang masih mewarnai budaya dan bahasa kita hingga hari ini.

Ancaman Ekonomi Global dan Manuver “Prabowo Mediator”

​Situasi di Timur Tengah pasca-serangan akhir Februari 2026 membawa dampak sistemik bagi dunia. Penutupan Selat Hormuz—jalur sempit yang memfasilitasi sekitar 20% hingga 30% dari total konsumsi minyak dunia—berpotensi mengerek harga komoditas energi dan memicu inflasi global, termasuk di Indonesia.

​Menghadapi efek domino tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan kesiapan Indonesia untuk turun tangan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk terbang langsung ke Teheran. Langkah memfasilitasi dialog ini ditawarkan apabila seluruh pihak yang bertikai menyetujuinya guna mencegah perang terbuka dan mengembalikan stabilitas urat nadi perdagangan dunia.

​Hubungan Diplomatik Modern: Dari Perdagangan hingga BRICS

​Langkah berani Indonesia menengahi konflik ini berdiri di atas fondasi diplomatik yang kokoh. Secara resmi, sejarah Indonesia Iran dalam konteks negara modern telah bersemi sejak tahun 1950, menjadikannya salah satu mitra bilateral terlama bagi Republik Indonesia di kawasan Timur Tengah.

​Berdasarkan arsip Kemlu RI, intensitas kerja sama kedua negara terus mencatatkan kurva positif, terutama sejak 2006. Beberapa capaian penting dari hubungan ini meliputi: