Di tengah banjir informasi digital, filsafat Suhrawardi hadir sebagai pengingat. Temukan alasan mengapa ajaran “Cahaya” filsuf abad ke-12 ini tetap relevan bagi pencarian makna manusia modern.


KOSONGSATU.ID–Sejarah sering mencatat para penakluk, tetapi jarang memberi ruang bagi mereka yang berusaha menaklukkan gelap di dalam pikiran manusia.

Salah satu nama yang layak diingat adalah Suhrawardi, filsuf Persia abad ke-12 yang dikenal sebagai perintis filsafat iluminasi.

Konsep Cahaya dalam Metafisika Suhrawardi

Melalui karyanya Hikmah al-Ishraq dalam Hikmat al-Ishraq, Suhrawardi mengajukan sebuah tesis metafisik yang berani: realitas adalah cahaya dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Di puncak hierarki wujud terdapat Nur al-Anwar, Cahaya dari segala cahaya, sumber seluruh keberadaan.

Dari sana memancar tingkatan-tingkatan eksistensi hingga mencapai dunia material yang paling redup. Materi, dalam kerangka ini, bukan kegelapan mutlak, melainkan cahaya yang melemah.

Sintesis Rasio dan Intuisi

Yang menarik, Suhrawardi tidak menolak rasio, tetapi juga tidak membiarkannya berdiri sendiri. Ia mempertemukan filsafat Yunani, tradisi hikmah Persia, dan pengalaman mistik Islam dalam satu sistem yang utuh. Rasio diberi legitimasi, intuisi diberi disiplin. Sintesis inilah yang membuat pemikirannya berbeda, sekaligus kontroversial.

Pada masa kekuasaan Salahuddin, suasana politik dan teologis tidak sepenuhnya ramah terhadap gagasan yang dianggap melampaui batas ortodoksi. Di Aleppo, Suhrawardi dituduh menyimpang dan akhirnya dihukum mati dalam usia muda. Julukannya, al-Maqtul (yang dibunuh), menjadi penanda ironi: cahaya yang ia ajarkan dianggap ancaman.

Relevansi Filsafat Cahaya di Era Digital

Namun, gagasan tidak berhenti pada eksekusi fisik. Filsafat iluminasi terus memengaruhi tradisi intelektual Islam setelahnya dan menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan metafisika Islam. Pertanyaannya: apa relevansinya bagi kita hari ini?

Kita hidup di era yang sering disebut sebagai zaman keterbukaan informasi. Kota-kota terang sepanjang malam. Layar menyala tanpa henti. Arus data mengalir lebih cepat dari kemampuan kita mencernanya. Kita mengetahui lebih banyak fakta dibanding generasi mana pun sebelumnya. Namun, pengetahuan tidak selalu berarti pemahaman.