Dalam ruang publik kita, agama sering hadir sebagai slogan moral atau alat mobilisasi, jarang sebagai proyek intelektual yang serius. Sains berjalan sendiri di ruang akademik, agama berjalan sendiri di ruang ritual. Sintesis yang dulu diupayakan oleh tokoh seperti Suhrawardi terasa asing, bahkan mencurigakan.
Terang Tanpa Kejernihan Hanyalah Silau
Perdebatan cepat mengeras, tetapi jarang mendalam. Informasi mudah dibagikan, tetapi sulit diolah menjadi kebijaksanaan. Kita hidup dalam kelimpahan cahaya digital, namun belum tentu dalam kedalaman makna. Di titik inilah gagasan Suhrawardi menemukan relevansinya.
Jika realitas adalah cahaya dengan tingkat intensitas berbeda, maka persoalan bukan sekadar seberapa terang lingkungan kita, melainkan seberapa jernih kita menangkap terang itu. Terang tanpa kejernihan hanya menghasilkan silau.
Mungkin yang membuat Suhrawardi berbahaya bukan karena ia berbicara tentang Tuhan, tetapi karena ia menolak dunia yang gelap dianggap normal. Ia menolak pengetahuan yang merasa cukup pada permukaan. Di zaman ketika kita sibuk memperbanyak informasi namun jarang memperdalam makna, filsafat cahaya terasa seperti cermin yang tidak nyaman.
Ia memaksa kita bertanya: apakah kita benar-benar tercerahkan, atau hanya terbiasa hidup di bawah lampu yang terang tetapi tetap buta terhadap hakikat? ***



Tinggalkan Balasan