Ivan Illich sudah memperingatkan setengah abad lalu: bahwa sekolah modern tidak lagi memerdekakan manusia, tetapi menjeratnya dalam sistem yang menstandarkan imajinasi dan mematikan makna belajar.
KOSONGSATU.ID—Dunia modern penuh jargon “Merdeka Belajar”, namun justru semakin kehilangan kebebasan berpikir. Gedung sekolah menjulang, teknologi belajar merata, tetapi proses belajar kian jauh dari kehidupan.
Lebih dari lima puluh tahun silam, Ivan Illich, seorang imam dan filsuf sosial kelahiran Austria, telah menulis buku legendaris Deschooling Society (1971). Ia menyebut sekolah modern sebagai paradoks besar: semakin luas menjangkau masyarakat, tetapi semakin miskin makna kemanusiaan.
Dalam pandangannya, sekolah bukan lagi tempat belajar, melainkan lembaga yang “menyekolahkan manusia” untuk tunduk pada sistem yang mencetak, menilai, dan menormalisasi cara berpikir.

Dari Pendidikan Menjadi Industri Sertifikat
Illich menyebut sekolah modern sebagai monopoli radikal atas hak belajar. Ia menulis dengan tajam: “The pupil is thereby schooled to confuse teaching with learning, grade-advancement with education, a diploma with competence. — Murid akhirnya ‘disekolahkan’ untuk mengacaukan antara mengajar dengan belajar, antara naik kelas dengan pendidikan, dan antara ijazah dengan kemampuan.”
Sekolah, kata Illich, telah berubah menjadi pabrik sertifikat. Nilai dan ijazah dijadikan tolok ukur kecerdasan, sementara rasa ingin tahu dan keberanian berpikir mandiri tersisih.
Indonesia tak luput dari sindrom ini. Sistem pendidikan kita masih berputar pada target ujian, kenaikan kelas, dan ranking. Kita bangga pada angka partisipasi sekolah, tetapi jarang bertanya: apa yang sebenarnya dipelajari di sana?
Ritual Kemajuan yang Semu
Dalam bab Ritualisation of Progress, Illich membongkar mitos besar abad modern: bahwa semakin banyak sekolah berarti semakin maju. Padahal, menurutnya, sekolah hanyalah “ritual kemajuan”—sebuah ilusi sosial yang memproduksi legitimasi palsu atas perubahan.
Anak-anak dididik bukan untuk menjadi pembelajar, tapi untuk menjadi pekerja dalam sistem. Guru pun terjebak dalam birokrasi kurikulum yang kaku. Bahkan universitas, yang seharusnya menjadi taman kebebasan intelektual, terjerumus menjadi pabrik gelar untuk industri tenaga kerja.
Di Indonesia, pendidikan sering diperlakukan sebagai proyek pembangunan. Gedung megah dianggap simbol kemajuan, sementara kemampuan berpikir kritis dan empati sosial justru diabaikan.




Tinggalkan Balasan