Filipina menggelar simulasi gempa dan tsunami pada 5 November. Pejabat BNPB berbagi pengalaman di tengah dorongan kesiapsiagaan warga selama 72 jam.
KOSONGSATU.ID — Filipina menguji kesiapan menghadapi gempa dan tsunami melalui latihan berskala penuh di Santa Ana, Provinsi Cagayan, Kamis, 5 November 2026.
Kantor Pertahanan Sipil Filipina menggunakan skenario gempa bermagnitudo 8,5 akibat pergerakan Palung Luzon Timur. Gempa dan tsunami itu merupakan simulasi, bukan bencana yang sedang terjadi.
Dalam latihan tersebut, petugas menguji peringatan dini, evakuasi warga, komunikasi darurat, pencarian dan penyelamatan, serta penanganan korban.
BNPB Berbagi Pengalaman di Filipina
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, hadir atas undangan penyelenggara. Ia berbagi pelajaran dari Indonesia tentang latihan sebelum bencana dan kerja sama warga dengan pemerintah.
Muhari juga menekankan pentingnya menjaga layanan publik saat keadaan darurat. Menurutnya, latihan membantu mengubah rencana tertulis menjadi kemampuan yang dapat digunakan di lapangan.
Eropa Perinci Kesiapan 72 Jam
Dua hari sebelum latihan di Filipina, Komisaris Eropa Hadja Lahbib memperkenalkan pedoman kesiapsiagaan untuk menghadapi tiga hari pertama krisis.
Pedoman itu meliputi persediaan kebutuhan pokok selama 72 jam, pendidikan kesiapsiagaan bagi anak, akses bagi penyandang disabilitas, dan penyampaian informasi risiko. Komisi Eropa menyatakan pedoman tersebut tidak mengikat.
Sebelumnya, Thailand mengimbau rumah tangga menyiapkan tas darurat berisi perbekalan untuk 72 jam. Imbauan Thailand, pedoman Eropa, dan latihan Filipina menunjukkan langkah kesiapsiagaan yang dijalankan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Persediaan membantu warga memenuhi kebutuhan awal ketika bantuan belum tiba. Latihan di Filipina menguji pekerjaan berikutnya: memastikan peringatan, jalur evakuasi, dan layanan darurat dapat digunakan saat krisis terjadi. ***



Tinggalkan Balasan