Inflasi Oktober lebih rendah daripada September. Namun, rata-rata harga beras eceran tetap naik dan cabai menekan belanja pangan.

KOSONGSATU.ID — Angka inflasi melandai, tetapi pembeli belum tentu menemukan beras yang lebih murah. Dua hal itu muncul bersamaan dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Senin, 2 November 2026.

Inflasi Oktober tercatat 0,22 persen dibandingkan September, lebih rendah daripada inflasi September yang sebesar 0,30 persen. Secara tahunan, inflasi Oktober mencapai 3,23 persen.

Di sisi lain, rata-rata harga beras eceran naik dari Rp15.752 per kilogram pada September menjadi Rp15.765 pada Oktober. Kenaikannya Rp13 per kilogram, atau 0,08 persen dalam sebulan.

Data harga di tingkat penggilingan menunjukkan kenaikan lebih besar, yakni 0,26 persen secara bulanan dan 6,89 persen secara tahunan, menurut paparan BPS yang dilaporkan Bisnis.com.

Laju Harga dan Harga di Toko

Inflasi mengukur perubahan harga, bukan menyatakan semua harga telah kembali ke posisi lama. Saat inflasi melambat tetapi tetap positif, harga secara umum masih naik dengan laju lebih kecil.

Angka beras BPS juga merupakan rata-rata nasional lintas kualitas dan wilayah. Harga di satu pasar bisa berbeda dari angka tersebut tanpa berarti salah satu pengukurannya keliru.

Menurut BPS, cabai merah menyumbang 0,13 poin persentase pada inflasi Oktober. Cabai rawit menyumbang 0,05 poin dan tomat 0,04 poin.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah,” kata Deputi BPS Ateng Hartono dalam laporan ANTARA.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,51 persen secara bulanan. Andilnya terhadap inflasi umum mencapai 0,15 poin persentase.

Dalam laporan sebelumnya, KosongSatu.ID juga menelusuri jarak antara cadangan pemerintah dan ketersediaan beras di rak ritel.

Persediaan Besar Belum Menjawab Harga

Pemerintah menyebut cadangan beras di Bulog sekitar 4,5 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menghitung perkiraan hasil padi di lahan dan stok di masyarakat dalam total ketersediaan sekitar 25 juta ton.

“Kebutuhan per bulan 2,5 juta ton. Kalau 25 juta ton dibagi kebutuhan 2,5 juta per bulan, berarti itu bisa untuk 10 bulan ke depan,” kata Amran dalam keterangan Kementerian Pertanian.

Hitungan ketersediaan itu menjawab pertanyaan tentang pasokan secara nasional. Harga yang dibayar keluarga turut bergantung pada waktu panen, penyaluran, kualitas, dan kondisi pasar di daerahnya.

BPS hari ini memperkirakan produksi beras Oktober–Desember hanya 5,01 juta ton, turun 16,32 persen dari periode sama tahun lalu. Angka tersebut masih proyeksi, menurut ANTARA.

Maka, angka inflasi yang lebih rendah patut dibaca bersama harga pangan dan pasokan beberapa bulan ke depan. Bagi pembeli, ukuran yang paling dekat tetap harga pada rak atau timbangan pasar. ***