Pelajaran di Tengah Krisis Iklim

Perubahan iklim hari ini menguji ulang semua asumsi lama. Musim tak lagi bisa diprediksi. Kemarau memanjang, banjir datang di luar kalender tanam. Dalam kondisi seperti ini, sistem pangan berbasis satu komoditas menjadi rapuh.

Monokultur padi mengumpulkan seluruh risiko pada satu titik. Ketika padi terganggu, seluruh sistem ikut terguncang.

Sebaliknya, pangan berbasis umbi memberi diversifikasi alami. Ia menyebar risiko dan memberi ruang bertahan tanpa menunggu intervensi besar. Dalam banyak kajian ketahanan pangan tropis, umbi-umbian disebut sebagai sumber karbohidrat paling adaptif—bukan karena produksinya spektakuler, tetapi karena ketahanannya konsisten.

Penutup: Mengingat Kebijaksanaan Lama

Membicarakan uwi bukan berarti menyingkirkan padi. Beras tetap penting. Namun menjadikannya satu-satunya penopang pangan nasional adalah kesalahan struktural.

Uwi mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak dibangun dari hasil maksimal saat kondisi ideal, melainkan dari kemampuan bertahan ketika keadaan terburuk datang.

Ia tumbuh di sela-sela, di pinggir, di tempat yang kerap luput dari kebijakan. Ia tidak menuntut banyak. Ia tidak panik saat musim berubah. Ia menunggu di dalam tanah—diam-diam menjaga kemungkinan hidup.

Di sanalah, barangkali, tersimpan kebijaksanaan pangan Nusantara yang terlalu lama kita abaikan.***