Kajian Faridah dkk. (2014) pada lima kultivar uwi Indonesia menemukan kristalinitas pati uwi tidak mudah rusak meski suhu tanah meningkat tajam.

Artinya, kandungan nutrisi uwi — karbohidrat tinggi, protein cukup, gula rendah — tetap terjaga utuh hingga masa panen.

Paradoks Agronomi: Kemarau Bukan Ancaman, Melainkan Kebutuhan

Uwi bukan sekadar bertahan saat kering. Kajian Lebot (2009) dalam Tropical Root and Tuber Crops mencatat: kemarau 2–4 bulan justru menjadi katalisator pembesaran umbi.

Saat pertumbuhan daun terhenti, seluruh energi dialihkan ke pembentukan umbi di bawah tanah. Kajian Emerald dkk. (2024) dalam Agronomy MDPI memetakan mekanisme transisi energi ini secara detail.

Riset IPB bahkan mencatat produksi varietas uwi unggul asal Banggai Kepulauan mencapai 51–63 ton per hektare — angka yang kompetitif di lahan marginal sekalipun.

Potensi Besar, Pengembangan Masih Minim

Pemerintah Jawa Tengah mendorong diversifikasi pangan lokal termasuk uwi untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan terigu yang masih mendominasi 91 persen konsumsi.

Di tingkat nasional, uwi masuk daftar pangan lokal belum optimal. Peneliti BRIN telah mengolah tepung uwi menjadi kroket, gethuk, hingga kue lumpur. Riset Universitas Merdeka Madiun (2020) membuktikannya layak menjadi mie instan.

Namun jarak antara riset dan skala produksi masih lebar. Minimnya informasi gizi dan rantai pengolahan yang belum efisien membuat uwi sulit bersaing di pasar pangan nasional.

Di tengah kemarau yang makin panjang dan kering, celah itu perlu segera diisi — bukan hanya lewat riset, tetapi kebijakan rantai pasok yang konkret. ***


Referensi ilmiah: Craufurd dkk. (2001), Emerald dkk. (2024), Faridah dkk. (2014), Lebot (2009), Shiwachi dkk. (2011), BMKG (2026).