Penundaan serangan AS ke Iran dinilai pakar sebagai bentuk kelemahan.


KOSONGSATU.ID – ​Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan militer terhadap fasilitas energi Iran dinilai sebagai miskalkulasi strategis tingkat tinggi.

Para pakar geopolitik menyebut mundurnya Washington dari garis batas waktu yang mereka tetapkan sendiri justru menjadi pukulan telak bagi kredibilitas daya gertak militer Amerika.

Menurut ​mantan Diplomat AS dan Pakar Timur Tengah, Alan Eyre, tenggat waktu 48 jam yang sebelumnya dijatuhkan Trump kepada Teheran untuk membuka Selat Hormuz adalah sebuah blunder.

​”Trump benar-benar salah perhitungan ketika dia berkata ‘Anda punya waktu 48 jam untuk membuka selat’,” tegas Eyre dalam pernyataannya, Rabu (25/3/2026).

Ia menganalisis bahwa penundaan ini membuktikan perang yang ingin dieskalasi oleh Trump sudah lepas dari kendalinya. Biaya politik dan militer yang harus ditanggung kini dinilai jauh lebih besar ketimbang keuntungan memproyeksikan kekuatan AS di mata dunia.

​Krisis ini meletus setelah Iran secara sepihak menutup Selat Hormuz pada 2 Maret 2026. Aksi blokade chokepoint yang mengatur 20 persen lalu lintas energi global itu merupakan balasan atas operasi gabungan AS-Israel pada 28 Februari yang diklaim menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Buntut dari blokade ini, harga minyak sempat menembus angka USD113 per barel.