Juru bicara militer Iran menyatakan Selat Hormuz “tidak akan kembali seperti dulu” dan izin transit “ditentukan oleh kami”. Klaim ini terkonfirmasi oleh data pelayaran internasional, yang mencatat penurunan lalu lintas kapal hingga 90 persen, serta penerapan sistem izin berbayar yang disebut operator sebagai “pos tol.”


KOSONGSATU.ID – Kepastian bahwa Iran secara resmi menguasai Selat Hormuz dan menerapkan sistem izin bagi kapal yang melintas didasarkan pada pernyataan resmi militer Iran, data Lloyd’s List, serta pengakuan Israel atas tewasnya komandan yang bertanggung jawab atas penutupan selat tersebut.

Juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, secara tegas menyatakan bahwa situasi di selat tidak akan kembali seperti masa lalu dan izin transit akan ditentukan oleh Iran. Pernyataan ini disampaikan kepada Anadolu Ajansı pada 25 Maret 2026.

“Api di bawah harga minyak telah dinyalakan, dan tingkatnya ada di tangan kami,” ujar Zolfaghari.

Penolakan Iran terhadap proposal 15 poin AS yang disampaikan melalui mediator juga menegaskan kembali klaim kedaulatan atas jalur strategis tersebut.

Data Pelayaran: Hanya 150 Kapal dalam Sebulan

Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan bahwa lalu lintas melalui Selat Hormuz turun 90 persen sejak perang dimulai 28 Februari. Hanya sekitar 150 kapal—termasuk tanker dan kontainer—yang telah melintas hingga 26 Maret. Angka yang setara dengan lalu lintas normal dalam satu hari sebelum konflik.

New Straits Times melaporkan bahwa 26 kapal tercatat melintas melalui rute baru di sekitar Pulau Larak, perairan teritorial Iran, sejak 13 Maret. Setelah 15 Maret, tidak ada transit melalui rute normal yang tercatat.

Mekanisme “Pos Tol” Berbayar Yuan

Lloyd’s List mengungkap sistem yang diterapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengharuskan kapal menghubungi perantara yang disetujui, menyerahkan dokumentasi lengkap (identifikasi, kepemilikan, manifes kargo, tujuan, daftar kru), lalu menerima kode verifikasi dan dikawal melalui satu koridor terkendali.