“Meskipun tidak semua kapal membayar tol secara langsung, setidaknya dua kapal telah melakukannya dan pembayarannya diselesaikan dalam yuan,” demikian laporan Lloyd’s List Intelligence.
Pembayaran dalam yuan memungkinkan Iran menghindari pelanggaran sanksi AS sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan China.
Israel Klaim Tewaskan Komandan IRGC Navy
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi pada 26 Maret bahwa Laksamana Alireza Tangsiri, Komandan IRGC Navy, tewas dalam serangan di Bandar Abbas.
“Kami terus menyerang target-target rezim teroris Iran dengan kekuatan penuh. Tadi malam, kami melenyapkan Komandan Angkatan Laut IRGC. Pria ini memiliki banyak darah di tangannya; dia juga orang yang memimpin penutupan Selat Hormuz.,” ujar Netanyahu.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut Tangsiri “bertanggung jawab langsung” atas penutupan selat.
Reaksi Internasional: “Terrorisme Ekonomi”
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Al Budaiwi, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz “telah melintasi semua garis merah” dan mengancam pertumbuhan ekonomi global.
Sultan al-Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyebut kebijakan Iran sebagai “terrorisme ekonomi.”
“Menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata bukanlah tindakan agresi terhadap satu negara saja. Ini adalah terorisme ekonomi terhadap setiap konsumen, setiap keluarga yang bergantung pada energi dan pangan yang terjangkau,” tegasnya.
Ahli sejarah maritim dari Campbell University, Sal Mercogliano, menegaskan bahwa tidak ada ketentuan dalam hukum internasional yang mengizinkan “pos tol” dan pemerasan terhadap pelayaran.
Sementara itu, parlemen Iran sedang membahas rancangan undang-undang untuk meresmikan kedaulatan, kontrol, dan pengawasan atas Selat Hormuz sekaligus menciptakan sumber pendapatan melalui pungutan biaya.***




0 Komentar