Ketegasan ini didukung penuh oleh menteri-menterinya dari kalangan Muhammadiyah, Masyumi, dan NU. Bahkan, Soekarno melarang kakak kandungnya, Ny. Wardojo, ikut mengantar jenazah ke makam, menaati pemahaman syariat yang ia pegang teguh.
“Surat-Surat Islam Ende” adalah monumen sejarah yang membuktikan bahwa Soekarno bukanlah sosok yang memandang agama sebelah mata. Melalui persahabatannya dengan A. Hassan, kita melihat dimensi spiritual Bung Karno yang amat dalam dan rasional.
Ia adalah seorang pembelajar sejati yang menjadikan masa pengasingannya yang sepi sebagai ruang kelas teologi, mengubah seorang pemikir nasionalis sekuler menjadi seorang mukmin yang teguh menjaga kemurnian syariat di ranah privatnya.***
Sumber
- Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I. (Secara spesifik merujuk pada bagian “Surat-Surat Islam Endeh”, hlm. 325-344).
- Arsip Korespondensi (Sumber Primer)
- Soekarno. (1934, 1 Desember). [Surat kepada A. Hassan]. Dikirim dari Endeh.
- Soekarno. (1935, 25 Januari). [Surat kepada A. Hassan]. Dikirim dari Endeh.
- Media Massa / Surat Kabar
- Pewarta Surabaja. (1958, 15 September). (Merujuk pada laporan harian mengenai suasana duka wafatnya Ibunda Soekarno, Ny. Sosrodihardjo).
Halaman



Tinggalkan Balasan