Persahabatan dan korespondensi intelektual antara Soekarno dan ulama PERSIS A. Hassan tak hanya menemani masa pengasingan Sang Proklamator, tetapi juga membentuk keteguhan pemahaman syariat Islam yang terus ia terapkan secara disiplin hingga menjadi Presiden RI.
KOSONGSATU. ID– Pengasingan sering kali menjadi titik balik bagi seorang tokoh besar. Demikian pula bagi Soekarno ketika dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Ende, Flores, pada kurun waktu 1934-1938.
Di tengah kesunyian pulau terpencil itu, Sang Putra Fajar tak hanya merenungkan nasib bangsanya, tetapi juga menyelami samudra teologi Islam. Jembatan intelektualnya di masa sepi itu terbentang lewat seutas korespondensi jarak jauh dengan seorang ulama besar dari Bandung: Tuan Ahmad Hassan, guru utama Persatuan Islam (PERSIS).
Pertemuan Tak Sengaja di Percetakan
Jauh sebelum masa pembuangan ke Ende, jalinan persahabatan antara Soekarno dan A. Hassan bermula dari sebuah kebetulan yang historis. Keduanya bersua di percetakan milik pengusaha Tionghoa di Bandung, Drukerij Economy.
Kala itu, Soekarno muda tengah sibuk mengurus pencetakan koran perjuangannya, Fikiran Rakjat. Di tempat yang sama, A. Hassan rutin mencetak literatur-literatur keagamaan.
Pertemuan di antara deru mesin cetak itu membuahkan dialog dan pertukaran pikiran yang intens. Soekarno yang nasionalis tulen, menemukan kawan diskusi yang sepadan dalam diri A. Hassan, sosok ulama reformis dan puritan.
Dari Penjara Sukamiskin hingga Wesel Presiden
Keakraban dua tokoh beda latar belakang ini terbukti tak sekadar di permukaan.
Ketika Soekarno dijebloskan ke Penjara Sukamiskin, Bandung, pada 1929, A. Hassan dan para kader PERSIS secara rutin menjenguknya, membawakan setumpuk buku dan brosur pemikiran Islam untuk menemani hari-hari Sang Proklamator di balik jeruji besi.
Hubungan resiprokal ini terekam indah puluhan tahun kemudian.
Pada 1953, ketika A. Hassan terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Malang, ia awalnya hanya mendapat perawatan standar. Tiba-tiba, datanglah selembar pos wesel senilai Rp12.500—sebuah nominal yang sangat fantastis di era itu. Sang pengirim tertulis jelas: Ir. Soekarno Presiden RI.
Sontak, perlakuan rumah sakit berubah drastis setelah mengetahui pasiennya adalah sahabat dekat sekaligus “guru” seorang presiden.
Dialog Lintas Pulau: Surat-Surat Islam Endeh
Puncak dari interaksi intelektual mereka termanifestasi saat Soekarno diasingkan ke Ende.
Lewat surat-menyurat, Soekarno tak ragu memposisikan dirinya sebagai murid yang haus akan ilmu agama. Tercatat ada 12 pucuk surat yang dikirim Soekarno dari Endeh kepada A. Hassan, yang kelak dirangkum abadi sepanjang 21 halaman dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I, tepatnya di halaman 325-344.
Pada surat terawalnya tertanggal 1 Desember 1934, Soekarno dengan lugas meminta dikirimkan buku-buku referensi berat. “Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku… 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, I Al-Jawahir,” pintanya.
Ia juga meminta literatur tentang persoalan “sayid” untuk menguji argumen pemikirannya sendiri.
Buku-buku kiriman A. Hassan itu dilahap habis oleh Bung Karno. “Saja mendjadi termenung sebentar, karena merasa tak selajaknja dilimpahi kebaikan hati saudara jang sedemikian itu… Pada ini hari semua buku dari anggitan saudara jang ada pada saja, sudah habis saja baca,” tulis Soekarno antusias dalam surat balasan tanggal 25 Januari 1935.
Di surat yang sama, ia bahkan meminta terjemahan hadis Bukhari dan Muslim karena menyadari pengetahuannya tentang “wet” (hukum/syariat) masih dangkal.
Keyakinan yang Menubuh di Lingkaran Istana
Pemikiran reformis dan puritan yang diserap Soekarno dari A. Hassan tak hanya berhenti pada tataran teori, melainkan mewujud dalam ketegasan sikap. Ini terbukti puluhan tahun kemudian, saat Sang Proklamator tengah berduka atas wafatnya ibunda tercinta, Ny. Soekeni Sosrodihardjo, pada 15 September 1958.
Berdasarkan laporan harian Pewarta Surabaja pada 15 September 1958, pelayat dari kalangan pejabat hingga duta besar dibuat kehausan karena tak ada jamuan makan dan minum. Kepada para tamu, Soekarno meminta maaf seraya menegaskan bahwa ia tengah menjalankan prinsip hukum Islam—di mana justru pelayatlah yang sepantasnya menyumbang kepada keluarga yang berduka.
Ketegasan ini didukung penuh oleh menteri-menterinya dari kalangan Muhammadiyah, Masyumi, dan NU. Bahkan, Soekarno melarang kakak kandungnya, Ny. Wardojo, ikut mengantar jenazah ke makam, menaati pemahaman syariat yang ia pegang teguh.
“Surat-Surat Islam Ende” adalah monumen sejarah yang membuktikan bahwa Soekarno bukanlah sosok yang memandang agama sebelah mata. Melalui persahabatannya dengan A. Hassan, kita melihat dimensi spiritual Bung Karno yang amat dalam dan rasional.
Ia adalah seorang pembelajar sejati yang menjadikan masa pengasingannya yang sepi sebagai ruang kelas teologi, mengubah seorang pemikir nasionalis sekuler menjadi seorang mukmin yang teguh menjaga kemurnian syariat di ranah privatnya.***
Sumber
- Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I. (Secara spesifik merujuk pada bagian “Surat-Surat Islam Endeh”, hlm. 325-344).
- Arsip Korespondensi (Sumber Primer)
- Soekarno. (1934, 1 Desember). [Surat kepada A. Hassan]. Dikirim dari Endeh.
- Soekarno. (1935, 25 Januari). [Surat kepada A. Hassan]. Dikirim dari Endeh.
- Media Massa / Surat Kabar
- Pewarta Surabaja. (1958, 15 September). (Merujuk pada laporan harian mengenai suasana duka wafatnya Ibunda Soekarno, Ny. Sosrodihardjo).






Tinggalkan Balasan