Sontak, perlakuan rumah sakit berubah drastis setelah mengetahui pasiennya adalah sahabat dekat sekaligus “guru” seorang presiden.

​Dialog Lintas Pulau: Surat-Surat Islam Endeh

Puncak dari interaksi intelektual mereka termanifestasi saat Soekarno diasingkan ke Ende.

Lewat surat-menyurat, Soekarno tak ragu memposisikan dirinya sebagai murid yang haus akan ilmu agama. Tercatat ada 12 pucuk surat yang dikirim Soekarno dari Endeh kepada A. Hassan, yang kelak dirangkum abadi sepanjang 21 halaman dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I, tepatnya di halaman 325-344.

​Pada surat terawalnya tertanggal 1 Desember 1934, Soekarno dengan lugas meminta dikirimkan buku-buku referensi berat. “Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku… 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, I Al-Jawahir,” pintanya.

Ia juga meminta literatur tentang persoalan “sayid” untuk menguji argumen pemikirannya sendiri.

​Buku-buku kiriman A. Hassan itu dilahap habis oleh Bung Karno. “Saja mendjadi termenung sebentar, karena merasa tak selajaknja dilimpahi kebaikan hati saudara jang sedemikian itu… Pada ini hari semua buku dari anggitan saudara jang ada pada saja, sudah habis saja baca,” tulis Soekarno antusias dalam surat balasan tanggal 25 Januari 1935.

Di surat yang sama, ia bahkan meminta terjemahan hadis Bukhari dan Muslim karena menyadari pengetahuannya tentang “wet” (hukum/syariat) masih dangkal.

​Keyakinan yang Menubuh di Lingkaran Istana

Pemikiran reformis dan puritan yang diserap Soekarno dari A. Hassan tak hanya berhenti pada tataran teori, melainkan mewujud dalam ketegasan sikap. Ini terbukti puluhan tahun kemudian, saat Sang Proklamator tengah berduka atas wafatnya ibunda tercinta, Ny. Soekeni Sosrodihardjo, pada 15 September 1958.

​Berdasarkan laporan harian Pewarta Surabaja pada 15 September 1958, pelayat dari kalangan pejabat hingga duta besar dibuat kehausan karena tak ada jamuan makan dan minum. Kepada para tamu, Soekarno meminta maaf seraya menegaskan bahwa ia tengah menjalankan prinsip hukum Islam—di mana justru pelayatlah yang sepantasnya menyumbang kepada keluarga yang berduka.