Sunan Gunung Jati mengajarkan membuka hutan tanpa merusak keseimbangan alam.
KOSONGSATU.ID—Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah memberikan perhatian khusus pada pengelolaan hutan dalam proses pembangunan masyarakat Islam di Jawa Barat. Sejarawan Agus Sunyoto mencatat, salah satu peran penting Sunan Gunung Jati adalah mengajarkan tata cara membuka hutan secara bijak (Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2017).
Pada masa itu, pembukaan hutan berkaitan erat dengan perluasan permukiman dan kebutuhan lahan pertanian. Namun, Sunan Gunung Jati menekankan bahwa pemanfaatan hutan harus disertai tanggung jawab menjaga keseimbangannya agar tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang.
Pemimpin Politik dan Penjaga Lingkungan
Selain berperan sebagai penguasa kerajaan Islam di Jawa Barat, Sunan Gunung Jati mendidik masyarakat untuk memahami batas-batas eksploitasi alam. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kekuasaan politik dapat berjalan seiring dengan kesadaran ekologis.
Pendekatan ini membuat pembukaan hutan tidak semata berorientasi pada hasil, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan sumber air, tanah, dan hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
Kampung Naga, Warisan Ekologi Wali
Salah satu bukti nyata warisan ajaran Sunan Gunung Jati adalah Kampung Naga di Jawa Barat. Kampung adat ini merupakan hasil pembukaan hutan oleh murid Sunan Gunung Jati, Singaparana, dengan pendekatan ramah lingkungan.
Hingga kini, Kampung Naga mempertahankan tata kelola air, lahan pertanian, hutan, dan permukiman yang berkelanjutan. Pola hidup masyarakatnya menjadi contoh praktik ekologi yang konsisten lintas generasi.
Hutan Keramat dan Perlindungan Air
Di Kampung Naga terdapat kawasan hutan yang dikeramatkan dan tidak boleh dijamah. Masyarakat meyakini hutan tersebut berfungsi menjaga kelestarian sumber air yang menopang kehidupan desa.
Konsep ini sejalan dengan praktik Islam awal pada masa Nabi Muhammad Saw, ketika wilayah tertentu di Makkah dan Madinah ditetapkan sebagai kawasan haram untuk melindungi flora dan fauna. Pada masa kekhalifahan, dikenal pula sistem hima, yakni kawasan lindung demi keberlanjutan sumber daya.
Tata Air dan Sanitasi Tradisional
Pengelolaan air di Kampung Naga dirancang agar air terus mengalir sehingga tidak menjadi sarang nyamuk. Air bersih untuk konsumsi dipisahkan dari air irigasi sawah, sementara jamban ditempatkan di luar area permukiman guna mencegah pencemaran lingkungan.
Pengaturan ini menunjukkan pemahaman ekologis yang matang, jauh sebelum konsep sanitasi modern diperkenalkan.
Ketahanan Pangan Berbasis Tradisi
Dalam bercocok tanam, warga Kampung Naga menggunakan varietas padi lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Proses panen masih memanfaatkan alat manual seperti ani-ani, menjaga ritme alam dan meminimalkan kerusakan lahan.
Dengan memegang ajaran leluhur yang berakar pada dakwah Sunan Gunung Jati, masyarakat Kampung Naga berhasil membangun ketahanan pangan mandiri sekaligus melestarikan hutan, air, dan sumber daya lingkungan. Praktik ini menegaskan bahwa kearifan lama tetap relevan dalam menjawab tantangan keberlanjutan hari ini.***




Tinggalkan Balasan