Sunan Ampel merancang dakwah Islam berbasis ekologi, tata kota, dan konservasi air.
KOSONGSATU.ID—Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, kerap dikenang sebagai pendiri Pesantren Ampel Denta. Namun perannya jauh melampaui dakwah keagamaan. Ia tampil sebagai perancang wilayah, pembaru pertanian, dan pelopor etika ekologis di Jawa pesisir abad ke-15.
Dalam Oud Soerabaia (1931), G.H. von Faber mencatat bahwa sebelum menetap, Sunan Ampel mempertimbangkan Ampel Denta secara ekologis. Kawasan itu subur, berada di antara Kali Surabaya (Kalimas) dan Kali Ampel (Pegirian), dengan rumpun bambu lebat yang menjaga air tanah tetap bersih.
Ampel Denta: Topografi, Air, dan Kosmopolitanisme
Ampel Denta—kini bagian Surabaya—dulu bernama Desa Denta. Secara geologis, wilayah ini lebih tinggi dari sekitarnya. Hingga kini, kawasan Ampel relatif aman ketika daerah lain tergenang banjir.
Profesor Suparto Wijoyo dari Universitas Airlangga menjelaskan, nama Ampel Denta berasal dari toponimi alam. Ampel merujuk rumpun bambu, sementara denta meniru bunyi gesekan bambu tertiup angin. Secara harfiah: bambu yang berdentang.
Letaknya yang strategis menjadikan Ampel Denta kota pesisir dengan muara sungai dan pelabuhan. Kawasan ini tumbuh kosmopolit, terbuka bagi pendatang lintas etnis dan bangsa. Sunan Ampel tak membatasi siapa pun untuk belajar dan bermukim.
Kota Pelabuhan dan Arus Peradaban
Surabaya memiliki sembilan anak sungai. Kalimas dan Pegirian menjadi pintu masuk ke pedalaman Jawa. Kondisi ini bernilai ekonomis dan menarik migrasi besar-besaran.
D.G. Stibbe dalam Encyclopædie van Nederlandsch-Indië (1921) mencatat Kampung Arab Ampel dihuni beragam komunitas: Arab, Moor, Benggala, pribumi, bahkan Tionghoa. Von Faber menyebut Sunan Ampel memimpin wilayah dengan sekitar 3.000 keluarga dari Trowulan, dengan total penduduk diperkirakan mencapai 10.000 jiwa.
Pertanian Tumpangsari dan Pupuk Organik
Sunan Ampel juga pembaru pertanian. Ia mengajarkan pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan dan sisa tanaman, yang difermentasi hingga menyuburkan tanah.
Ia memperkenalkan rotasi tanaman dan tumpangsari. Padi ditanam saat hujan, jagung saat kemarau. Padi dipadukan dengan kacang-kacangan atau sayuran. Pola ini menjaga kesuburan tanah, menekan hama, dan mengefisienkan air.
Arsitektur Masjid yang Peka Iklim
Riset Mappaturi (2015) dalam Jurnal RUAS mengulas Masjid Sunan Ampel sebagai arsitektur ekologis. Pepohonan di sekitar masjid berfungsi sebagai peneduh, penyaring debu, peredam bising, sekaligus area resapan air.
Masjid Ampel dibangun dengan atap joglo khas Jawa Majapahit. Joglo memaknai gunung—simbol harmoni mikrokosmos dan makrokosmos. Bangunan bukan sekadar ruang ibadah, melainkan perpanjangan etika hidup yang selaras dengan alam.
Konservasi Air: Sumur Ampel dan Blumbang
Di kompleks Masjid Ampel terdapat Sumur Ampel bersejarah, sumber air yang diyakini digali sejak abad ke-14. Airnya dimanfaatkan hingga kini melalui gentong-gentong minum bagi peziarah.
Tak jauh dari sana, terdapat Sumur Blumbang—kolam tua berbentuk persegi panjang dengan struktur bata besar di dinding bawah. Peneliti menduga struktur ini kuno dan tak pernah kering sepanjang musim.
Bagi Sunan Ampel, air memiliki makna Qurani: sumber kehidupan, penyubur tanah, sarana penyucian, dan simbol rahmat Tuhan.

Moh Maling dan Etika Ekologi
Dalam ajaran Moh Limo, Sunan Ampel menegaskan moh maling—pantang mencuri. Maknanya meluas hingga hari ini: menolak pencurian ekologis.
Pembalakan liar, perusakan hutan, kolusi izin tambang, hingga eksploitasi sumber daya yang ugal-ugalan adalah bentuk maling modern. Semua merusak keseimbangan sosial dan alam.
Bagi Sunan Ampel, menjaga alam adalah laku moral. Kota, pertanian, dan air dirawat sebagai amanah bersama. Sebuah pelajaran ekologis dari abad ke-15 yang relevan hingga kini.***




Tinggalkan Balasan