Meski harus mendekam di bui, sang habib pantang menyerah. Ia menganggap penjara sebagai risiko dari kewajiban amar makruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan).
Penutup: Teladan Ketulusan Berbangsa
Kisah pasang surut Soekarno dan Habib Salim bin Jindan menyuguhkan potret hubungan kekuasaan dan moralitas yang sangat elegan. Sang ulama membuktikan kecintaannya kepada pemimpin bukan melalui puja-puji buta, melainkan lewat teguran keras saat sang murid mulai salah melangkah.
Sejarah ini mewariskan sebuah pesan abadi: persahabatan sejati dan loyalitas seorang ulama tidak diukur dari kepatuhannya pada penguasa, melainkan dari keberaniannya menyuarakan kebenaran, sekalipun penjara menjadi bayarannya.***
Sumber Rujukan:
- Alatas, Ismail Fajrie. (2011). “Becoming Indonesians: The Ba’Alawi in the Interstices of the Nation”. Die Welt des Islams, Vol. 51.
- bin Jindan, As-Syarif Ahmad bin Novel. (t.t.). Biografi al-Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Jindan. (Hal. 26-28).
- Junior, Ibnu Umar. (t.t.). Fenomena Kramat Jati.
- Shahab, Alwi. (t.t.). Catatan Sejarah dan Dakwah Masyarakat Betawi.
Halaman



0 Komentar