Presiden Soekarno dan ulama Betawi Habib Salim bin Jindan pernah menjalin hubungan erat sebagai murid dan guru mengaji di kawasan Otista, Jakarta, sebelum akhirnya pecah kongsi pada 1957.
KOSONGSATU.ID – Kedekatan Presiden Soekarno dan ulama Betawi Habib Salim bin Jindan yang bermula manis di kawasan Otista, Jakarta, harus menemui titik nadir pada tahun 1957.
Sang guru mengaji berani menentang keras kebijakan Nasakom Soekarno secara terbuka dari atas mimbar di Palembang karena menganggapnya menyimpang dari syariat Islam.
Akibat orasi lantang yang menolak bungkam tersebut, Habib Salim harus rela menukar kedekatannya dengan penguasa menjadi dinginnya jeruji besi penjara.
Sowan ke Otista dan Pelajaran Kitab Kuning
Jauh sebelum konflik ideologi memisahkan mereka, Soekarno dan Habib Salim merajut persahabatan yang sangat hangat. Presiden pertama Republik Indonesia itu memiliki rutinitas spiritual yang jarang tersorot hiruk-pikuk politik. Ia kerap meluangkan waktu sowan ke kediaman Habib Salim di kawasan Otista, Jatinegara.
Tujuan kedatangan Sang Proklamator bukan untuk membahas urusan kenegaraan, melainkan untuk duduk bersila sebagai seorang murid. Di rumah ulama karismatik itulah Soekarno menuntut ilmu, berkonsultasi seputar agama, hingga akhirnya mahir membaca kitab kuning.
Habib Salim, yang publik juluki sebagai “Gudang Ilmu” di Jakarta, menerima sang presiden dengan tangan terbuka dan membimbingnya dengan penuh kesabaran.
Berjuang Bersama Menghadapi Kolonial
Lebih dari sekadar guru dan murid, keduanya juga merupakan kawan seperjuangan yang memiliki semangat nasionalisme api. Habib Salim memegang teguh prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman).
Ia menerjemahkan prinsip ini melalui perlawanan nyata terhadap penjajah, mulai dari menolak tradisi saikeirei Jepang hingga melawan agresi Belanda.
Kedekatan mereka di ranah perjuangan terlihat jelas saat Indonesia berada di ujung tanduk diplomasi. Ketika Perjanjian Renville berlangsung pada 1948, Habib Salim melangkah naik ke atas kapal perang Amerika Serikat USS Renville di Tanjung Priok.
Ia hadir mendampingi para pemimpin bangsa, membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemuka agama di mimbar masjid, melainkan juga pilar penyangga kedaulatan republik.
Benturan Ideologi di Era Demokrasi Terpimpin
Namun, angin politik berubah arah ketika memasuki era Demokrasi Terpimpin. Soekarno mulai menggulirkan konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) pada akhir era 1950-an. Di sinilah persahabatan mereka menemui ujian terberat.
Bagi Habib Salim, kebenaran syariat berada di atas segalanya, termasuk kedekatan emosional dengan penguasa. Ia menolak keras gagasan Nasakom yang menyertakan unsur komunis di dalamnya.
Perlahan tapi pasti, sang pendakwah bertransformasi. Ia menanggalkan jubah kelembutan seorang guru dan mengenakan ketegasan seorang kritikus yang menguliti kebijakan pemerintah dari atas mimbar.
Insiden Palembang dan Konfrontasi di Atas Mimbar
Ketegangan antara sang guru dan rezim muridnya akhirnya meledak mencapai titik didih. Pada tahun 1957, sebuah acara tabligh akbar berlangsung di Palembang, Sumatra Selatan, yang turut dihadiri langsung oleh Soekarno.
Dalam ceramahnya yang menggebu-gebu, Habib Salim kembali melontarkan kritik pedas terhadap arah politik pemerintah. Merasa pidato tersebut menyudutkan sang presiden, ajudan Bung Karno, Kolonel Sabur, marah besar. Ia merangsek maju dan memerintahkan sang mubaligh turun dari mimbar saat itu juga.
Menghadapi intimidasi aparat di hadapan kepala negara, Habib Salim tidak mundur selangkah pun. Dengan tenang namun lantang, ia justru menatap ribuan jemaah dan melempar pertanyaan tajam.
“Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?”
Ribuan hadirin serempak bergemuruh menjawab, “Teruuus!”
Harga Sebuah Ketegasan
Keberanian mempertahankan akidah tersebut menuntut harga yang teramat mahal. Sikap kritis yang tak kenal kompromi membuat penguasa Orde Lama merespons dengan tangan besi.
Habib Salim bin Jindan terpaksa harus keluar-masuk penjara. Ia melewati malam-malam dingin di balik jeruji besi demi menjaga kemurnian ajaran agama dari campur tangan politik yang ia anggap menyimpang.
Meski harus mendekam di bui, sang habib pantang menyerah. Ia menganggap penjara sebagai risiko dari kewajiban amar makruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan).
Penutup: Teladan Ketulusan Berbangsa
Kisah pasang surut Soekarno dan Habib Salim bin Jindan menyuguhkan potret hubungan kekuasaan dan moralitas yang sangat elegan. Sang ulama membuktikan kecintaannya kepada pemimpin bukan melalui puja-puji buta, melainkan lewat teguran keras saat sang murid mulai salah melangkah.
Sejarah ini mewariskan sebuah pesan abadi: persahabatan sejati dan loyalitas seorang ulama tidak diukur dari kepatuhannya pada penguasa, melainkan dari keberaniannya menyuarakan kebenaran, sekalipun penjara menjadi bayarannya.***
Sumber Rujukan:
- Alatas, Ismail Fajrie. (2011). “Becoming Indonesians: The Ba’Alawi in the Interstices of the Nation”. Die Welt des Islams, Vol. 51.
- bin Jindan, As-Syarif Ahmad bin Novel. (t.t.). Biografi al-Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Jindan. (Hal. 26-28).
- Junior, Ibnu Umar. (t.t.). Fenomena Kramat Jati.
- Shahab, Alwi. (t.t.). Catatan Sejarah dan Dakwah Masyarakat Betawi.




0 Komentar