Habib Ali Kwitang menguatkan batin Bung Karno selama masa kritis perjuangan bangsa.
KOSONGSATU. ID– Di balik gegap gempita proklamasi, tersimpan kisah senyap tentang kedekatan spiritual Bung Karno dengan Habib Ali Kwitang, sang ulama kharismatik yang menjadi jangkar batin bagi Sang Putra Fajar di masa-masa paling kritis perjuangan bangsa.
Sejarah sering kali mencatat angka dan peristiwa besar, namun terkadang luput mengabadikan getaran batin di baliknya. Sebelum pekik “Merdeka” membahana di Pegangsaan Timur, ada sebuah rumah di sudut sempit Kwitang, Jakarta Pusat, yang menjadi saksi bisu transformasi seorang pemimpin besar. Di sana, Ir. Soekarno bukan tampil sebagai orator ulung, melainkan sebagai seorang murid yang mencari perlindungan dan cahaya di bawah asuhan Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi.
Persembunyian di Balik Jubah Kharisma
Kisah ini bermula saat Bung Karno baru saja menghirup udara bebas dari penjara Sukamiskin. Di tengah kejaran mata-mata Jepang dan sisa-sisa tekanan kolonial Belanda, keselamatan Sang Putra Fajar berada dalam ancaman. Adalah M. Husni Thamrin yang menyarankan agar Soekarno “mengamankan diri” di kediaman Habib Ali Kwitang.
Kwitang dipilih bukan tanpa alasan. Habib Ali adalah tokoh yang sangat dihormati oleh kawan maupun lawan; bahkan pemerintah Belanda pun segan kepadanya.
Di bawah perlindungan sang Habib, Soekarno tinggal selama empat bulan. Di sinilah, identitas politik Soekarno melebur dengan ketenangan spiritual. Ia bukan lagi tahanan politik, melainkan “tamu agung” yang dijaga ketat oleh murid-murid Habib Ali.
Transformasi Spiritual Sang Proklamator
Sebelum menetap di Kwitang, Soekarno dikenal sebagai sosok nasionalis yang cenderung sekuler dan awalnya kurang akrab dengan tradisi lokal seperti Tahlil atau Maulid Nabi. Namun, dinding-dinding rumah Habib Ali mengubah segalanya.
Melalui bimbingan lembut dan dialog hati ke hati, Habib Ali menyentuh sisi terdalam Soekarno. Bung Karno mulai ikut serta dalam pengajian, belajar mengenakan sarung dengan bersahaja, dan mendalami tasawuf mu’tabarah yang mengajarkan kebersihan jiwa. Transformasi ini begitu mendalam sehingga Soekarno yang kita kenal di masa kepresidenannya adalah sosok yang sangat menghargai tradisi ulama, cinta bershalawat, dan kerap meminta doa restu para habaib.
Subuh yang Menentukan di 9 Ramadan
Puncak dari hubungan ini terjadi pada dini hari yang mencekam setelah peristiwa Rengasdengklok. Setelah teks proklamasi dirumuskan di rumah Laksamana Maeda, Bung Karno tidak langsung beristirahat. Dengan menyamar demi menghindari patroli musuh, ia kembali mendatangi kediaman Habib Ali Kwitang.
Ia datang untuk satu tujuan: memohon doa restu dan kepastian waktu. Atas pertimbangan spiritual, Habib Ali menetapkan tanggal 17 Agustus 1945, yang kala itu bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H. Hari Jumat dipilih sebagai penghulu hari (Sayyidul Ayyam) di dalam bulan yang suci. Berkat sowan ini pula, pembacaan teks proklamasi yang semula dijadwalkan pagi hari, sempat tertunda hingga jam 10 pagi, demi memastikan segalanya selaras dengan restu sang guru.
Legasi yang Tak Lekang Oleh Zaman
Dukungan Habib Ali terhadap Soekarno tidak berhenti pada doa. Dua jam setelah proklamasi, dari mimbar Masjid Kwitang, Habib Ali mengumumkan kemerdekaan Indonesia kepada jamaah Salat Jumat dan memerintahkan seluruh umat Islam memasang bendera Merah Putih.
Hubungan ini kemudian diwariskan lintas generasi. Kedekatan ini menjelaskan mengapa tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari hingga Gus Dur memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Kwitang. Masjid Kwitang, yang kemudian diresmikan namanya oleh Presiden Soekarno menjadi Khuwatul Ummah (Kekuatan Umat), tetap berdiri tegak hingga hari ini sebagai monumen persatuan antara umara yang nasionalis dan ulama yang patriotis.
Dari Kwitang kita belajar, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya dijahit dengan benang keberanian, tetapi juga disimpul dengan doa-doa tulus para wali. Habib Ali Kwitang adalah “penjaga” bagi Sang Putra Fajar, membuktikan bahwa di balik pemimpin yang hebat, selalu ada bimbingan spiritual yang kuat.***
Sumber:
- Asad, Muhammad. Habib Ali Kwitang: Ulama Kharismatik dari Betawi.
Arsip Pustaka Lutfiyah (Koleksi Sejarah Tokoh Islam Jakarta). - Catatan Harian Bung Hatta mengenai Detik-Detik Proklamasi.
- Sanad Media. (2022). Sisi Spiritual Bung Karno dan Habib Ali.




Tinggalkan Balasan