Ia hadir mendampingi para pemimpin bangsa, membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemuka agama di mimbar masjid, melainkan juga pilar penyangga kedaulatan republik.
Benturan Ideologi di Era Demokrasi Terpimpin
Namun, angin politik berubah arah ketika memasuki era Demokrasi Terpimpin. Soekarno mulai menggulirkan konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) pada akhir era 1950-an. Di sinilah persahabatan mereka menemui ujian terberat.
Bagi Habib Salim, kebenaran syariat berada di atas segalanya, termasuk kedekatan emosional dengan penguasa. Ia menolak keras gagasan Nasakom yang menyertakan unsur komunis di dalamnya.
Perlahan tapi pasti, sang pendakwah bertransformasi. Ia menanggalkan jubah kelembutan seorang guru dan mengenakan ketegasan seorang kritikus yang menguliti kebijakan pemerintah dari atas mimbar.
Insiden Palembang dan Konfrontasi di Atas Mimbar
Ketegangan antara sang guru dan rezim muridnya akhirnya meledak mencapai titik didih. Pada tahun 1957, sebuah acara tabligh akbar berlangsung di Palembang, Sumatra Selatan, yang turut dihadiri langsung oleh Soekarno.
Dalam ceramahnya yang menggebu-gebu, Habib Salim kembali melontarkan kritik pedas terhadap arah politik pemerintah. Merasa pidato tersebut menyudutkan sang presiden, ajudan Bung Karno, Kolonel Sabur, marah besar. Ia merangsek maju dan memerintahkan sang mubaligh turun dari mimbar saat itu juga.
Menghadapi intimidasi aparat di hadapan kepala negara, Habib Salim tidak mundur selangkah pun. Dengan tenang namun lantang, ia justru menatap ribuan jemaah dan melempar pertanyaan tajam.
“Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?”
Ribuan hadirin serempak bergemuruh menjawab, “Teruuus!”
Harga Sebuah Ketegasan
Keberanian mempertahankan akidah tersebut menuntut harga yang teramat mahal. Sikap kritis yang tak kenal kompromi membuat penguasa Orde Lama merespons dengan tangan besi.
Habib Salim bin Jindan terpaksa harus keluar-masuk penjara. Ia melewati malam-malam dingin di balik jeruji besi demi menjaga kemurnian ajaran agama dari campur tangan politik yang ia anggap menyimpang.




0 Komentar