Setelah meninggalkan gemerlap Eropa, Sosrokartono kembali ke tanah air. Ia hidup sebagai sufi sunyi, dikenal sebagai “Sang Alif”. Menjelang Proklamasi, Soekarno mencarinya untuk sebuah jawaban: kapan Indonesia akan merdeka?

KOSONGSATU.ID—Tahun 1925, Sosrokartono kembali ke Hindia Belanda. Ia datang bukan sebagai diplomat, bukan pula pejabat tinggi Liga Bangsa-Bangsa. Ia datang sebagai pengembara jiwa. Ia pulang sebagai pejalan spiritual.

Langkah pertamanya menuju ibunya, M.A. Ngasirah. Tapi, setelah itu, ia mencari seseorang: guru.

Menurut sejarawan Aguk Irawan, begitu tiba di tanah Jawa, Sosrokartono menemui Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang—sahabat lama yang dulu sekamar di Pesantren Darat Semarang.

Namun versi lain menyebut, ia mendatangi Kiai Munthaha di Pondok Pesantren Kedungmacan, Sambong, Jombang. Sosok ini adalah mursyid tarekat Qadiriyah–Naqsyabandiyah–Akmaliyah. Dari sinilah titik balik Sosrokartono dimulai.

Meninggalkan Dunia, Mencari Yang Satu

Sosrokartono membuang seluruh gelar, harta, dan jabatannya. Ia tak ingin dikenal sebagai doktorandus Leiden atau wartawan New York Herald. Ia tak lagi mengejar kekuasaan, tapi ketulusan.

Ia pindah ke Bandung. Di sana, ia hidup asketik, mendirikan semacam padepokan spiritual kecil bernama Dar Oes Salam. Rumahnya jadi tempat pengobatan, tempat belajar bahasa, tempat berdoa. Gratis. Tanpa pamrih. Ia menolong siapa saja.

Ia mulai dikenal sebagai “Sang Alif”.

Alif: Simbol Ketauhidan

Alif adalah huruf pertama dalam abjad Arab. Satu garis lurus, tegak, sederhana. Dalam tafsir tasawuf, Alif melambangkan tauhid—kesatuan mutlak Tuhan.

Bagi Sosrokartono, menjadi “Sang Alif” berarti hidup dalam garis keteguhan spiritual. Ia menciptakan konsep Catur Murti—yakni kesatuan antara pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan. Bila empat gejala jiwa ini menyatu, manusia akan hidup jujur, bersih, dan murni. Ia akan hidup selaras dengan kehendak Ilahi.

Hidup Alif adalah hidup suci. Tidak meminta lebih. Hanya mengambil apa yang diberikan. Melayani sesama dengan belas kasih.