​Panitia masjid memajang nama-nama pekurban di spanduk besar. Beberapa lembaga amil mencetak sertifikat elegan. Media sosial penuh dengan unggahan foto serah terima sapi atau kambing berkalung bunga. Diam-diam, tanpa kita sadari, muncul iklim kompetisi tak kasat mata. Orang mulai membandingkan siapa menyembelih berapa ekor, jenis sapinya apa, dan dari peternakan mana asalnya.

​Lalu, sebuah pertanyaan besar mengemuka: di mana ruang aman yang tersisa bagi mereka yang tahun ini memilih tidak berkurban?

​Abu Bakar dan Umar dahulu sengaja menciptakan ruang toleransi tersebut. Sayangnya, hari ini ruang itu nyaris tertutup rapat. Masyarakat modern kerap memberikan label negatif bagi mereka yang absen berkurban. Orang yang tak menyetor nama ke panitia sering dianggap pelit, kurang taat agama, atau dinilai gagal menaikkan status sosialnya di tengah warga perumahan.

​Makruh Bukan Berarti Dosa

​Anda mungkin akan menyanggah, “Bukankah makruh jika kita tinggalkan? Apalagi ada ulama yang mewajibkan. Jadi lebih baik kita paksakan saja.”

​Tentu saja, pendapat itu tidak keliru. Al-Duri sendiri menggarisbawahi bahwa kurban menjadi makruh jika ditinggalkan justru karena ada perbedaan pendapat (khilaf) wajib di kalangan ulama Hanafi.

​Namun, kita harus meletakkan hukum pada tempatnya. Makruh karena khilaf sama sekali berbeda dengan wajib mutlak. Ketika Anda mampu lalu tidak berkurban, Anda hanya merugi kehilangan peluang pahala yang sangat besar. Anda tidak sedang melakukan maksiat atau menabung dosa.

​Para sahabat memahami batasan presisi ini. Oleh karena itu, mereka berani mengambil langkah tidak populer demi menjaga kewarasan beragama umatnya.

​Menjaga Niat dari Tekanan Sosial

​Tulisan ini tentu tidak bertujuan menyuruh Anda berhenti berkurban. Kurban tetaplah ibadah yang teramat mulia. Mengutip hadis riwayat Tirmidzi, tidak ada amalan manusia pada hari raya Iduladha yang lebih dicintai Allah dibandingkan mengalirkan darah hewan kurban.

​Namun, kita perlu menarik garis tegas. Ada jurang pemisah antara ibadah yang lahir dari ketulusan hati, dengan ibadah yang terpaksa kita tunaikan sekadar menghindari cibiran di grup WhatsApp rukun tetangga.