Dari pangkalan Ain Al-Asad hingga kapal induk di Laut Merah, senjata asimetris mulai mengubah kalkulus perang abadi.


Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID

Akar konflik global saat ini tidak bermula dari Iran. Sejarah justru mencatat titik awalnya pada masa Perang Dunia II. Saat itu, Presiden Franklin Roosevelt mengambil keputusan yang kelak mengubah wajah dunia: membiarkan para kapitalis meraup keuntungan raksasa dari mesin perang.

Keputusan ini melahirkan sebuah model bisnis nasional yang baru. Perusahaan-perusahaan raksasa membangun jaringan kuat dan saling terkait dengan pemerintah federal di seluruh negara bagian Amerika. Saat Anda menggabungkan insentif pasar dan ambisi politik, Kompleks Industri Militer pun lahir.

Istilah ini dipopulerkan oleh Presiden Dwight D. Eisenhower dalam pidato perpisahannya pada 1961. Ia memperingatkan: “Kita harus menjaga terhadap perolehan pengaruh yang tidak semestinya oleh kompleks industri militer. Potensi peningkatan kekuatan yang keliru akan ada dan akan terus berlanjut.”

Entitas ini, menurut para kritikus seperti Chalmers Johnson dalam bukunya The Sorrows of Empire (2004), dengan leluasa mendominasi politik domestik dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat sepanjang era Perang Dingin .

Logika Ekspansi dan Candu Pangkalan Militer

Untuk mengobarkan apa yang disebut Andrew Bacevich sebagai “Perang Abadi” (Forever War), Amerika harus mampu memproyeksikan kekuatan militernya ke jantung musuh. Taktik ini membutuhkan satu syarat utama: pangkalan militer.

David Vine, dalam bukunya Base Nation (2015), mencatat bahwa AS memiliki sekitar 800 pangkalan militer di luar negeri—sebuah jumlah yang belum pernah ada dalam sejarah imperium mana pun .

Strategi ini sebenarnya mengulang sejarah lama. Imperium Inggris pada masa jayanya berekspansi dengan membangun stasiun-stasiun pengisian batu bara bagi Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy). Hari ini, Imperium AS berdiri di atas fondasi minyak dan daya tembak yang terkonsentrasi.

Tanpa pangkalan operasional yang kuat, militer AS tidak bisa mempertahankan peperangan dalam jangka waktu lama. Akibatnya, mereka menyewa kontraktor swasta untuk membangun, mengoperasikan, dan menyuplai pangkalan-pangkalan tersebut dengan biaya triliunan dolar—sebuah kebijakan yang mengunci Amerika dalam formula: kobarkan perang di negeri yang jauh, sesering mungkin, dan selama mungkin.

Afghanistan dan Kesombongan Strategis

Afghanistan adalah bukti nyata. Selama 20 tahun (2001-2021), Amerika Serikat memaksakan perang berkelanjutan dan mendirikan pangkalan-pangkalan super mahal. Hasilnya, menurut Chalmers Johnson, sukses menyumbang keuntungan masif bagi segelintir elit kontraktor pertahanan, namun meninggalkan penderitaan mendalam bagi penduduk lokal .