Di sinilah Mustika Rasa menjadi lebih dari buku masak. Ia menyimpan peta ingatan tentang bagaimana masyarakat Indonesia pernah mengenali tanahnya sendiri melalui bahan pangan.

Pada saat negara menghadapi tekanan beras, pangan lokal menjadi jawaban yang masuk akal. Bukan karena beras harus ditinggalkan sepenuhnya, melainkan karena ketergantungan tunggal selalu membuat masyarakat rentan.

Pelajaran dari Meja Makan Lama

Krisis pangan masa Soekarno tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dan politik zamannya. Inflasi tinggi, gejolak politik, serta keterbatasan produksi membuat kebijakan pangan tidak selalu mudah dijalankan.

Namun, warisan gagasan diversifikasi pangan tetap relevan. Indonesia pernah memiliki proyek dokumentasi besar yang menempatkan pangan lokal sebagai bagian dari strategi kebangsaan, bukan sekadar nostalgia kuliner.

Hari ini, ketika isu ketahanan pangan kembali muncul dalam berbagai bentuk, dari harga beras, impor, perubahan iklim, hingga alih fungsi lahan, pelajaran lama itu layak dibaca ulang.

Uwi, gadung, suweg, gembili, dan aneka umbi lain mungkin tidak akan menggantikan beras sepenuhnya. Tetapi sejarah menunjukkan, pangan lokal dapat menjadi penyangga penting jika dikelola dengan riset, edukasi, keamanan pangan, dan kebijakan yang serius.

Dari Mustika Rasa, kita belajar bahwa kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang, ia tumbuh dari pekarangan, dari dapur, dari pengetahuan ibu-ibu rumah tangga, dan dari keberanian sebuah bangsa untuk tidak menggantungkan seluruh nasibnya pada satu jenis makanan. ***


Daftar Sumber Rujukan