Ketika beras menjadi persoalan negara, Soekarno mendorong pangan lokal sebagai jalan berdikari. Jejaknya terekam dalam Mustika Rasa.
KOSONGSATU.ID — Jauh sebelum istilah diversifikasi pangan menjadi bahasa kebijakan modern, Indonesia pernah menghadapinya sebagai urusan hidup sehari-hari. Pada masa awal Republik, beras bukan sekadar makanan pokok, melainkan penanda stabilitas sosial, politik, dan ekonomi.
Di tengah keterbatasan produksi, pertumbuhan penduduk, serta warisan sistem pertanian era penjajahan Belanda yang belum sepenuhnya pulih, negara harus mencari jalan keluar. Pangan tidak bisa hanya bertumpu pada sawah dan padi.
Pada dekade 1960-an, tekanan itu makin terasa. Data Bank Dunia mencatat jumlah penduduk Indonesia naik dari sekitar 98,8 juta jiwa pada 1964 menjadi 101,3 juta jiwa pada 1965. Kenaikan ini memperbesar kebutuhan pangan nasional di tengah produksi yang belum stabil.
Di titik itulah gagasan berdikari menemukan konteks paling konkret: isi piring rakyat.
Pangan sebagai Urusan Kedaulatan
Bagi Presiden Soekarno, pangan bukan perkara dapur semata. Ia menyangkut martabat bangsa. Gagasan Berdikari, atau berdiri di atas kaki sendiri, ia sampaikan secara resmi dalam amanat politik pada pembukaan Sidang Umum MPRS III, 11 April 1965.
Dalam kerangka itu, pangan lokal tidak lagi dipandang sebagai makanan kelas dua. Jagung, singkong, talas, sagu, uwi, gadung, gembili, dan suweg diberi tempat dalam percakapan besar tentang kemandirian nasional.
Negara berusaha menggeser cara pandang lama yang terlalu menggantungkan makan pada nasi. Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” mulai ditantang oleh kenyataan: Indonesia memiliki begitu banyak sumber karbohidrat, tetapi tidak semuanya diperlakukan setara.
Jejak paling penting dari gagasan itu terekam dalam Mustika Rasa, buku masakan besar yang diterbitkan Departemen Pertanian pada 1967. Buku itu bukan sekadar kumpulan resep, melainkan dokumen kebudayaan pangan.
Di dalamnya, bahan-bahan lokal dari berbagai daerah dicatat, dijelaskan, dan diberi konteks pemakaian sehari-hari. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan mencatat, Mustika Rasa lahir dari perhatian Soekarno terhadap pangan sebagai bagian penting pembangunan bangsa.
Ketika Umbi Masuk Politik Pangan
Salah satu bagian menarik dalam Mustika Rasa adalah uraian tentang umbi-umbian. Buku itu menjelaskan bahwa umbi merupakan bahan makanan dari akar, rimpang, dan batang yang tumbuh di dalam tanah, serta menyimpan tepung.
Karena itu, umbi sering dipakai sebagai makanan utama atau pengganti beras. Di bagian inilah uwi, gadung, gembili, dan suweg muncul sebagai bahan pangan yang dekat dengan pekarangan rakyat.
Tanaman-tanaman ini tidak selalu membutuhkan sawah luas. Sebagian tumbuh merambat, sebagian lain bertahan di tanah yang tidak selalu ideal untuk padi.
Tentang uwi, Mustika Rasa menjelaskan dengan ejaan lama bahwa uwi adalah umbi dari tanaman merambat di atas pagar pekarangan. Jenisnya beragam, dari uwi legi yang manis hingga gembili yang lebih netral.
Catatan itu penting karena menunjukkan satu hal: pangan lokal pernah dipahami melalui kedekatan dengan ruang hidup rakyat. Pekarangan bukan sekadar halaman rumah, melainkan cadangan pangan yang dapat menopang keluarga saat beras sulit dijangkau.
Namun, tidak semua umbi bisa langsung dimakan. Gadung, misalnya, membutuhkan pengetahuan pengolahan khusus. Mustika Rasa mencatat adanya kandungan alkaloid yang dapat menyebabkan mabuk dan muntah jika tidak diolah dengan benar.
Buku itu kemudian menjelaskan cara tradisional untuk mengurangi bahayanya: gadung diiris tipis, dibalut abu dapur selama satu malam, dicuci beberapa kali, lalu dijemur hingga kering sebelum dikukus atau digoreng menjadi keripik.
Pengetahuan seperti ini memperlihatkan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar ajakan makan selain nasi. Ia membutuhkan teknologi dapur, pengetahuan lokal, dan disiplin pengolahan agar bahan pangan aman dikonsumsi.
Suweg, Gembili, dan Ingatan yang Terpinggirkan
Selain uwi dan gadung, Mustika Rasa juga mencatat suweg. Tanaman dari kelompok Amorphophallus ini disebut memiliki umbi yang dapat dimakan dan kerap dipakai sebagai makanan utama.
Rasanya tawar sehingga mudah dipadukan dengan berbagai lauk. Bagi generasi hari ini, nama-nama seperti suweg, gembili, garut, atau ganyong mungkin terdengar asing. Padahal, bahan-bahan itu pernah berada dekat dengan dapur masyarakat Indonesia.
Sebagian tumbuh di kebun, sebagian di pekarangan, sebagian lain di lahan yang tidak terlalu dimanjakan irigasi. Nilainya bukan hanya pada kandungan karbohidrat, tetapi pada kemampuannya menjadi penyangga ketika satu jenis pangan utama terganggu.
Di sinilah Mustika Rasa menjadi lebih dari buku masak. Ia menyimpan peta ingatan tentang bagaimana masyarakat Indonesia pernah mengenali tanahnya sendiri melalui bahan pangan.
Pada saat negara menghadapi tekanan beras, pangan lokal menjadi jawaban yang masuk akal. Bukan karena beras harus ditinggalkan sepenuhnya, melainkan karena ketergantungan tunggal selalu membuat masyarakat rentan.
Pelajaran dari Meja Makan Lama
Krisis pangan masa Soekarno tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dan politik zamannya. Inflasi tinggi, gejolak politik, serta keterbatasan produksi membuat kebijakan pangan tidak selalu mudah dijalankan.
Namun, warisan gagasan diversifikasi pangan tetap relevan. Indonesia pernah memiliki proyek dokumentasi besar yang menempatkan pangan lokal sebagai bagian dari strategi kebangsaan, bukan sekadar nostalgia kuliner.
Hari ini, ketika isu ketahanan pangan kembali muncul dalam berbagai bentuk, dari harga beras, impor, perubahan iklim, hingga alih fungsi lahan, pelajaran lama itu layak dibaca ulang.
Uwi, gadung, suweg, gembili, dan aneka umbi lain mungkin tidak akan menggantikan beras sepenuhnya. Tetapi sejarah menunjukkan, pangan lokal dapat menjadi penyangga penting jika dikelola dengan riset, edukasi, keamanan pangan, dan kebijakan yang serius.
Dari Mustika Rasa, kita belajar bahwa kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang, ia tumbuh dari pekarangan, dari dapur, dari pengetahuan ibu-ibu rumah tangga, dan dari keberanian sebuah bangsa untuk tidak menggantungkan seluruh nasibnya pada satu jenis makanan. ***
Daftar Sumber Rujukan
- Mustika Rasa, Departemen Pertanian Republik Indonesia, 1967.
- Mustikarasa/Bagian 1, bagian “Golongan II: Umbi-umbian”.
- Berdiri di Atas Kaki Sendiri, Amanat Politik Presiden Soekarno, 11 April 1965.
- Population, total — Indonesia, Bank Dunia.
- Mustika Rasa dan Perhatian Khusus Sukarno pada Pangan, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan.






Tinggalkan Balasan