Sepanjang Oktober 2026, Rumah Syukur mempertemukan kebutuhan hunian, swadaya warga, dan harapan memperbaiki kehidupan lintas generasi.
KOSONGSATU.ID — Sebanyak 59 rumah menjadi tempat bertemunya kebutuhan keluarga dan gotong royong warga.
Dalam program Rumah Syukur Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID), rumah dibangun melalui uang yang dikumpulkan, tenaga yang disumbangkan, serta keterampilan yang dibagikan.
Rangkaian laporan KosongSatu.ID sepanjang 1–30 Oktober 2026 memperlihatkan pekerjaan itu dari dekat: survei keluarga, pemeriksaan tanah, pembangunan, hingga persiapan penyerahan.
Menjelang akhir bulan, rumah Nurul Ahmad di Pasuruan dinyatakan selesai. Sebanyak 11 DPD di Zona 1 Jawa Timur dan Bali juga menyiapkan penyerahan pada 31 Oktober.

Menurut data program hingga 29 Oktober, pembangunan mencakup 59 unit. Jumlah tersebut merupakan cakupan program, bukan konfirmasi seluruh rumah telah diserahkan.
Di balik angka itu terdapat keluarga dengan persoalan berbeda. Ada yang lama mengontrak, tinggal di bangunan rapuh, kehilangan orang tua, atau tidak mampu membiayai perbaikan.
Kisah mereka bertemu pada kebutuhan yang sama: tempat tinggal yang memungkinkan kehidupan keluarga berjalan lebih tenang.
Bantuan yang Menjawab Kekhawatiran Keluarga
Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, tawaran bantuan rumah dapat memunculkan kecemasan. Pembongkaran berarti kehilangan tempat berlindung jika pembangunan tidak berlanjut.
Sriyatun di Pati pernah menolak bantuan Rp20 juta karena takut tidak mampu menutup kekurangan biaya. OPSHID kemudian membangun rumah di atas tanah warisan keluarganya.

Di Gresik, Munimah bekerja membersihkan sekolah dengan penghasilan sekitar Rp400 ribu sebulan. Rumah lamanya harus dikosongkan terkait rencana pelebaran jalan.
Di Ngawi, Nimas Bagus Imam Triantoro tinggal sendiri setelah kehilangan kedua orang tua. Pekerjaan serabutan membatasi kemampuannya memperbaiki rumah yang rusak.
Sementara itu, Ayem Sarjono di Madiun telah bertahun-tahun berpindah kontrakan. Bantuan rumah diharapkan memberinya tempat tinggal tetap bersama istri.
Pembangunan karena itu diawali dengan mengenali keadaan penerima. Pengurus memeriksa kondisi hunian, kemampuan ekonomi, serta status tanah.
Di Bangkalan, dokumen tanah keluarga Busani disebut pernah terbakar. Pengurus menelusuri catatan desa dan meminta persetujuan keluarga sebelum pembangunan berjalan.
Di Madiun, relawan turut mendampingi administrasi pertanahan. Pekerjaan rumah mencakup urusan yang menentukan apakah bangunan dapat ditempati tanpa menyisakan sengketa.
Perhatian terhadap kepastian itu memperlihatkan dimensi lain persoalan hunian: keluarga memerlukan bangunan yang layak sekaligus kejelasan atas tempat tinggalnya.
Dari Iuran Warga hingga Manfaat Lintas Generasi
Gotong royong dalam Rumah Syukur mengambil banyak bentuk. Pendanaan bersumber dari iuran warga Shiddiqiyyah, sumbangan masyarakat, dan dukungan perusahaan yang dikelola warga tarekat.
Di Bangkalan, Madura, penggalangan untuk keluarga Busani yang beranggotakan 15 orang melibatkan penjualan ponsel sumbangan seharga Rp1,2 juta dan lelang cincin yang menghimpun Rp16 juta.
Warga juga menyumbangkan pasir, semen, beras, dan ikan. Dukungan tersebut menjangkau kebutuhan konstruksi sekaligus konsumsi pekerja.
Di Pujon, Kabupaten Malang, relawan membangun tiga rumah dengan pembagian keahlian. Kusen, pintu, dan jendela dibuat secara mandiri untuk menekan biaya.
Di Madiun, relawan perempuan menyiapkan makanan bergiliran. Dapur menjadi bagian penting dari pekerjaan yang memungkinkan pembangunan berlangsung setiap hari.

“Untuk konsumsi dibagi tiap DPC. Jadi, setiap hari ada piket relawan, termasuk para pekerja bangunan,” kata penanggung jawab konsumsi di Madiun, Dewi Suraidah.
Cara kerja itu menunjukkan bahwa sumbangan tidak selalu berbentuk uang. Waktu memasak, kemampuan bertukang, dan bantuan mengurus dokumen ikut menentukan hasil pembangunan.
Manfaat rumah pun dirancang mengikuti kebutuhan penghuninya. Di Jombang, rumah Azamil Ghoni memadukan tempat tinggal keluarga dengan ruang belajar mengaji.
Laporan selama Oktober juga menengok penerima lama. Suliyasih, penerima rumah pada 2012, mengembangkan warung dan usaha penatu serta membiayai pendidikan anak.
Saminem dan Suparmin, penerima pada 2021, memperluas rumah dan menambah ternak. Perubahan mereka turut ditopang pekerjaan, bantuan anak, serta warisan keluarga.

Pengalaman itu memberi gambaran manfaat jangka panjang, meski belum cukup untuk menyimpulkan seluruh penerima keluar dari kemiskinan berkat bantuan rumah.
Menutup Oktober, pembangunan memasuki tahap yang berbeda-beda. Pasuruan menyatakan rumah selesai, sementara laporan Tuban terakhir mencatat pengecatan dan perapian.
Persiapan penyerahan menjadi bagian dari proses panjang tersebut. Kehidupan penerima setelah menempati rumah akan memperlihatkan manfaatnya lebih jauh.
Kaleidoskop Rumah Syukur Oktober merekam cara warga merawat harapan bersama: menyediakan tempat berlindung agar keluarga memiliki ruang untuk melanjutkan kehidupan.***




Tinggalkan Balasan