Sebanyak 11 Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah di Zona 1 Jawa Timur dan Bali bersiap melaksanakan penyerahan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

KOSONGSATU.ID — Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian program pembangunan Rumah Syukur untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya ke-98.

Berdasarkan data program pembangunan tahun 2026, sebanyak 59 unit Rumah Syukur dibangun di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 28 unit berada di Zona 1 Jawa Timur dan Bali, menjadikannya zona dengan jumlah pembangunan terbanyak dibandingkan Zona 2 yang 18 unit, Zona 3 yang 4 unit, dan Zona 4 yang 9 unit.

Sebanyak 11 DPD OPSHID dijadwalkan melaksanakan penyerahan pada 31 Oktober. Daerah tersebut meliputi Magetan, Malang Raya dengan tiga unit rumah, Ngawi, Pacitan, Pasuruan, Kediri, Sidoarjo, Bojonegoro dengan dua unit rumah, Mojokerto, Surabaya, dan Lamongan.

Prosesi penyerahan dijadwalkan berlangsung pada pagi maupun malam hari sesuai kesiapan masing-masing daerah. Dengan demikian, penyerahan rumah tidak dilaksanakan secara serentak dalam satu waktu.

Program Rumah Syukur merupakan kegiatan tahunan OPSHID yang diwujudkan melalui pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus ungkapan syukur yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Keterbatasan Dana dan Tenaga Menjadi Tantangan

Di Ngawi, proses pembangunan Rumah Syukur juga menghadapi berbagai tantangan. Kasmun selaku Penanggung Jawab Pembangunan Rumah Syukur OPSHID Ngawi mengungkapkan bahwa keterbatasan dana dan tenaga menjadi kendala terbesar selama proses pembangunan hingga persiapan penyerahan rumah.

“Ya, masalah dana dan tenaga,” ujar Kasmun saat ditanya mengenai tantangan yang dihadapi selama pembangunan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai kendala tersebut tetap harus dihadapi dengan kesiapan menanggung segala risiko.

“Bisa, semua apa pun risikonya,” tegasnya.

Menurut Kasmun, pekerjaan pemasangan atap menjadi salah satu bagian pembangunan yang paling membutuhkan tenaga dan koordinasi. Kondisi tersebut menuntut upaya bersama agar pekerjaan dapat terus berjalan hingga mencapai tahap akhir.

Ia menjelaskan bahwa niat dan tekad yang kuat menjadi kunci untuk menghadapi keterbatasan dana maupun tenaga. Baginya, berbagai tantangan tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan upaya pembangunan Rumah Syukur.

Dengan berpegang pada niat dan tekad tersebut, proses pembangunan di Ngawi terus diupayakan hingga memasuki tahap persiapan penyerahan kepada penerima manfaat.

Meneruskan Semangat Sumpah Pemuda

Pelaksanaan program Rumah Syukur pada bulan Oktober berkaitan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober. Peristiwa Kongres Pemuda II pada 1928 menjadi tonggak penting dalam sejarah persatuan bangsa Indonesia.

Dalam momentum tersebut, Wage Supratman memperkenalkan lagu Indonesia Raya yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Nilai persatuan dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan melalui peristiwa bersejarah tersebut dapat diteruskan melalui berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya melalui gotong royong membangun hunian layak bagi sesama warga bangsa.

Melalui Rumah Syukur, OPSHID berupaya menghadirkan kepedulian dalam bentuk yang dapat dirasakan langsung oleh penerima manfaat. Rumah yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan dan kepedulian sosial.

Perbedaan jadwal penyerahan di setiap daerah menunjukkan bahwa pelaksanaan program menyesuaikan dengan proses dan kesiapan masing-masing DPD OPSHID. Meski tidak berlangsung serentak, seluruh kegiatan tetap menjadi bagian dari rangkaian program Rumah Syukur tahun 2026.

Penyerahan rumah menjadi tahap penting setelah proses pembangunan yang melibatkan berbagai pihak. Gotong royong antara anggota OPSHID dan masyarakat menjadi bagian dari upaya mewujudkan hunian layak bagi keluarga penerima manfaat.

Melalui program ini, peringatan Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu Indonesia Raya tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aksi sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.