Rumah baru untuk Azamil Ghoni dirancang dengan lantai tambahan sebagian atau mezzanine. Bangunan ini akan menampung kebutuhan tempat tinggal keluarga sekaligus kegiatan belajar mengaji.
KOSONGSATU.ID — Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) membangun rumah untuk Azamil Ghoni, 45 tahun, pengajar Bustan Tsamrotul Qolbis Salim (BTQ) di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.
Menurut laporan OPSHID Media yang diperbarui pada Sabtu (17/10/2026), rumah tersebut dirancang untuk menggabungkan hunian keluarga dengan ruang belajar. Foto pembangunan dalam laporan itu mencantumkan progres pekerjaan sekitar 80 persen.
Ghoni mengaku sempat tidak percaya ketika mengetahui dirinya menjadi penerima bantuan.
“Rasanya setengah percaya, setengah tidak percaya. Kaget, tahu-tahu dikabari sama OPSHID mau dibuatkan rumah,” katanya, dikutip OPSHID Media.
Ruang Mengaji Menjadi Pertimbangan Desain
Kebutuhan kegiatan mengaji menjadi pertimbangan dalam perencanaan rumah. Ghoni sebelumnya menggunakan rumah yang sama untuk tempat tinggal dan mengajar.
Bangunan baru berukuran 6 × 9 meter mengusung konsep mezzanine, yakni penambahan lantai pada sebagian ruang bangunan.
Lantai bawah disiapkan untuk kegiatan BTQ, dilengkapi satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Bagian atas menjadi ruang tidur tambahan.
Dengan pengaturan tersebut, kegiatan belajar dan kebutuhan keluarga dapat ditampung dalam satu bangunan. Biaya pembangunan disebut mencapai lebih dari Rp100 juta.
Mengajar sejak 2013
Menurut OPSHID Media, Ghoni mulai mengajar setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah pada 2013. Ia kemudian membuka kegiatan BTQ di rumahnya dan tidak menetapkan biaya belajar.
Rumah lama keluarga itu dilaporkan memiliki bagian bangunan yang rapuh. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam survei sebelum pembangunan.
Ghoni sebelumnya ingin menyediakan tempat belajar yang lebih memadai. Ketika mendapat bantuan rumah, ia juga memikirkan bagaimana kegiatan mengaji dapat terus berlangsung.
Kebutuhan itulah yang kemudian dimasukkan ke dalam rancangan bangunan, sehingga bantuan tidak hanya berupa penggantian tempat tinggal.
Gotong Royong untuk Hunian dan Pendidikan
Berdasarkan keterangan dalam naskah kegiatan, pembangunan dilakukan melalui pendanaan swadaya warga Shiddiqiyyah.
Program tersebut dikaitkan dengan tasyakuran Sumpah Pemuda dan peringatan 98 tahun lagu kebangsaan Indonesia Raya pada Oktober 2026. Penyelenggara menempatkan pembangunan rumah sebagai bentuk pengabdian sosial dan dukungan terhadap pendidikan.
Viki Vendy, penanggung jawab kegiatan DPC OPSHID Ploso, berharap fasilitas baru tersebut membantu Ghoni menjalankan kegiatan mengajar dengan lebih baik.
Bagi keluarga Ghoni, pembangunan rumah ini menjawab dua kebutuhan yang saling berkaitan: tempat tinggal yang lebih layak dan ruang untuk melanjutkan kegiatan belajar anak-anak.***




Tinggalkan Balasan