Saminem dan Suparmin mulai menambah ternak serta memperluas rumah. Bantuan hunian, penghasilan, dukungan anak, dan warisan menopang perubahan keluarga.
KOSONGSATU.ID — Lima tahun setelah menerima bantuan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah, Saminem dan Suparmin, warga Desa Kandangan, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mulai mengembangkan ternak dan memperluas tempat tinggal mereka.
Dalam wawancara dengan OPSHID Media Ngawi pada Minggu, 18 Oktober 2026, Suparmin mengatakan kehidupan keluarganya lebih tenang dibandingkan sebelum menerima rumah dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) pada 2021.
“Sangat jauh berbeda. Ekonomi meningkat dan hidup lebih tenang,” kata Suparmin, yang akrab disapa Mbah Min.
Perubahan itu berlangsung bertahap. Selain bantuan hunian, keluarga tersebut mengandalkan pekerjaan sehari-hari, dukungan anak yang telah bekerja, serta dana peninggalan keluarga untuk menambah aset.
Dari Mencari Barang Bekas hingga Memelihara Ternak
Sebelum menerima Rumah Syukur, Saminem mencari barang bekas untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Suparmin menggarap ladang warisan orang tuanya sekaligus menjadi buruh tani di lahan orang lain.
Saat itu, kedua anak mereka masih bersekolah. Anton Sai’in, anak pertama, duduk di kelas III SMK, sedangkan Erna Vidiana masih kelas II SMP.
Menurut laporan OPSHID Media Ngawi, Anton yang kini telah bekerja membantu orang tuanya dengan membelikan dua ekor kambing. Ternak tersebut berkembang biak dan sebagian telah dijual. Keluarga itu kini memelihara empat ekor kambing.
Saminem masih mencari barang bekas, meski tidak sebanyak dahulu. Ia juga mencari rumput dan merawat ternak. Sementara itu, Suparmin tetap bekerja di bidang pertanian.
Keluarga tersebut turut membeli dua ekor sapi menggunakan dana peninggalan keluarga. Dengan demikian, penambahan aset mereka berasal dari beberapa sumber, termasuk bantuan anak dan warisan.
Memperluas Rumah secara Bertahap
Setahun setelah menempati Rumah Syukur, Saminem dan Suparmin mulai memasang kanopi di teras. Mereka kemudian membangun dapur di belakang serta bangunan tambahan di sisi barat rumah utama.
Sebagian material pembangunan menggunakan kembali kayu dari rumah lama yang masih layak pakai.
Menurut penuturan keluarga dalam laporan tersebut, penghasilan Saminem digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara penghasilan Suparmin disisihkan untuk memperluas rumah.
Mereka juga mengebor ulang sumur setelah sumur lama tidak dapat digunakan.
Kebutuhan ruang bertambah ketika keluarga menggelar pernikahan Erna. Mereka ingin memiliki tempat yang lebih luas untuk memasak dan menerima tamu saat hajatan.
Bantuan Rumah dan Perubahan Kesejahteraan
Suparmin menceritakan rumahnya pernah disurvei pemerintah tiga kali untuk memperoleh bantuan, tetapi belum berujung pada penerimaan bantuan.
“Rumah ini dulu pernah tiga kali disurvei oleh pemerintah, tapi belum rezeki saya. Kemudian saya menyadari, hikmah dari kesabaran itu, saya malah mendapat Rumah Syukur dari OPSHID,” ujarnya.
Rumah tersebut diberikan dalam rangka tasyakuran peringatan Sumpah Pemuda ke-93 pada 2021. Saminem dan Suparmin menyampaikan terima kasih kepada warga Shiddiqiyyah dan OPSHID.
Pengalaman keluarga ini menggambarkan bagaimana bantuan tempat tinggal dapat memberi ruang untuk memenuhi kebutuhan lain. Namun, perubahan yang mereka alami juga ditopang pekerjaan, dukungan keluarga, dan pengelolaan aset.
Laporan tersebut tidak menyertakan angka pendapatan sebelum dan sesudah menerima rumah. Karena itu, peningkatan kesejahteraan yang disampaikan Suparmin merupakan pengalaman keluarga, belum menjadi ukuran bahwa mereka telah keluar dari kemiskinan.***




Tinggalkan Balasan