​Ilmu pengetahuan modern mengungkap bahwa penderitaan masa lalu telah mengubah DNA dan memicu rasa rendah diri.


KOSONGSATU.ID–​Bangsa Indonesia selama ini diyakini hidup di dalam sebuah ilusi raksasa terkait narasi sejarah masa lampau.

Terdapat sebuah narasi kesejarahan yang diduga kuat sengaja direkayasa agar masyarakat tertidur lelap. Narasi ini membuat banyak pihak lupa pada ukuran kekuatan serta potensi bangsa yang sebenarnya.

​Sejak duduk di bangku sekolah dasar, generasi muda terus-menerus didoktrin dengan cerita penderitaan dan kesedihan. Sistem pendidikan seolah mengajarkan bahwa masyarakat

Nusantara adalah bangsa inlander kelas dua. Bangsa ini digambarkan selalu pasrah dijajah selama lebih dari tiga abad oleh bangsa Eropa tanpa perlawanan yang berarti.

​Akibat dari doktrin sejarah yang diulang-ulang tersebut, rasa rendah diri mengakar secara mendalam pada karakter sosial masyarakat. Kondisi ini tidak lagi sekadar menjadi masalah psikologis biasa, melainkan telah menjelma menjadi sebuah trauma genetik yang serius.

​Dampak Nyata Epigenetika

​Ilmu epigenetika modern kini memberikan penjelasan ilmiah atas fenomena sosial tersebut. Kajian ini membuktikan bahwa penderitaan yang dialami oleh belasan generasi leluhur di masa lalu telah mengubah struktur DNA secara nyata.

​Luka batin dan penindasan fisik yang dialami selama ratusan tahun rupanya terekam dalam materi genetik. Hal ini pada akhirnya mewariskan rasa inferioritas tanpa disadari oleh generasi masa kini.

Itulah sebabnya, masih banyak kelompok masyarakat yang selalu menunduk hormat secara berlebihan pada standar peradaban Barat.

​Mereka memandang apa pun yang berasal dari luar negeri selalu lebih baik dibandingkan produk atau pemikiran bangsa sendiri. Inferioritas ini merasuk ke dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, budaya, pendidikan, hingga tata cara pengambilan kebijakan publik di tingkat nasional.

​Membongkar Ilusi Sejarah

​Kini, muncul dorongan kuat di tengah masyarakat untuk segera merobek kabut kebohongan dan ilusi tersebut hari ini juga. Masyarakat diajak untuk berhenti melihat diri mereka sebagai bangsa yang lemah dan terus-menerus merasa tertindas oleh sejarah.