Seorang remaja perempuan menghabiskan 16 jam sehari di Instagram. Kini, juri di Los Angeles harus memutuskan apakah Meta bertanggung jawab atas kecanduan yang dialaminya.
KOSONGSATU.ID—Seorang remaja yang hanya dikenal dengan inisial K ini menjadi saksi kunci dalam gugatan perdata terhadap Meta dan Google. Dalam kesaksiannya di pengadilan Los Angeles, ia mengungkapkan bagaimana media sosial mengubah hidupnya.
“Saya berhenti berinteraksi dengan keluarga karena menghabiskan seluruh waktu saya di media sosial,” kata Kaley kepada juri—sebagaimana dikutip BBC. Ia mengaku menatap Instagram hingga tertidur, terbangun tengah malam untuk memeriksa notifikasi, dan langsung membuka aplikasi begitu bangun tidur. Dalam satu hari, ia menghabiskan 16 jam di Instagram.
Gugatan ini menjadi uji coba pertama dari lebih dari 2.000 kasus serupa yang berupaya meminta pertanggungjawaban perusahaan media sosial atas dampaknya terhadap kesehatan mental pengguna muda.
Pertanyaan Kunci: Kecanduan atau Desain Platform?
Inti persidangan adalah dua pertanyaan: apakah Kaley mengalami kecanduan media sosial, dan apakah perusahaan merancang platform mereka agar membuat ketagihan. Jika terbukti, juri harus memutuskan kompensasi bagi korban seperti Kaley.
Hakim Carolyn Kuhl menyebut masalah hukum dalam kasus ini “belum pernah terjadi sebelumnya”. Konsekuensinya sangat besar sehingga Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Meta, hadir langsung memberikan kesaksian. Ini pertama kalinya ia bersaksi di pengadilan meskipun perusahaannya telah digugat ratusan kali sebelumnya.
Dampak Kesehatan Mental
Kaley mulai menggunakan YouTube saat usia enam tahun dan Instagram di usia sembilan tahun. Ia segera membuat puluhan akun di kedua platform untuk mengejar like dan interaksi.
Sekitar usia 10 tahun, ia mulai merasakan kecemasan dan depresi—gangguan yang didiagnosis bertahun-tahun kemudian. Ia juga terobsesi dengan penampilan fisik, menggunakan filter Instagram untuk mengubah wajahnya. Kaley kemudian didiagnosis mengalami body dysmorphia.
Ditanya pengacaranya, Mark Lanier, apakah ia pernah merasakan hal itu sebelum menggunakan media sosial, Kaley menjawab tegas: “Tidak.”
Pembelaan Meta
Meta berargumen bahwa masalah kesehatan mental Kaley berasal dari kehidupan pribadi dan pola asuhnya, bukan dari penggunaan Instagram. Adam Mosseri, Kepala Instagram, bersaksi bahwa menghabiskan 16 jam di platform bukanlah kecanduan, melainkan hanya “bermasalah”.
Zuckerberg berulang kali menegaskan kebijakan perusahaannya yang melarang pengguna di bawah 13 tahun. Namun saat dihadapkan pada dokumen internal yang menunjukkan eksekutif Meta membahas jutaan anak pengguna, Zuckerberg mengaku frustrasi.
“Saya tidak mengerti mengapa ini begitu rumit,” kata miliarder itu. “Kebijakan kami konsisten bahwa mereka tidak diizinkan dan kami berusaha menghapusnya. Kami tidak sempurna.”
Pengacara Kaley menekan Zuckerberg tentang klaim bahwa Meta hanya menciptakan platform yang berguna. Lanier menyebut kecanduan juga membuat orang menggunakan sesuatu lebih banyak. Zuckerberg terdiam sejenak: “Saya tidak tahu harus berkata apa. Itu mungkin benar, tapi saya tidak tahu apakah itu berlaku. Saya mencoba membangun layanan di sini.”
Dampak Lebih Luas
Jika juri memenangkan Kaley, ini akan mengubah preseden hukum dan budaya selama puluhan tahun yang memperlakukan platform sebagai repositori pasif perilaku manusia. Ribuan kasus serupa yang menanti di pengadilan AS pasti akan terpengaruh oleh hasil persidangan pertama ini.
Bahkan jika Meta atau Google tidak dinyatakan bersalah, tekanan publik dan politik terhadap perusahaan teknologi besar terus meningkat. Gelombang anak muda dengan masalah kesehatan mental serius dan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan anak-anak telah mendorong orang tua dan pemerintah mulai melarang penggunaan media sosial untuk remaja dan anak-anak.
Aaron Ping, yang putranya Avery bunuh diri di usia 16 tahun, menggambarkan perubahan anaknya dari “teman petualangan” menjadi sering bertengkar soal penggunaan YouTube. “Kami membuat perjanjian tentang waktu layar dengan konselor sekolahnya,” katanya.
Lori Schott, yang putrinya Annalee bunuh diri di usia 18 tahun, yakin Instagram bertanggung jawab. “Mereka menyembunyikan penelitian. Mereka tahu itu adiktif. Mereka memberi kami rasa aman palsu,” katanya.
Hidup Setelah Kecanduan
Hari ini, Kaley mengaku memiliki hubungan yang penuh kasih dengan ibunya. Ia bekerja sambil bersekolah. Penggunaan media sosialnya berlanjut—ia bahkan mengaku tertarik berkarier di manajemen media sosial.
Tapi saat ditanya apakah hidupnya akan lebih baik jika tak pernah menggunakan platform seperti Instagram, jawaban Kaley sederhana: “Ya.”***






0 Komentar