Lari kini bukan sekadar olahraga. Anak muda berlomba punya jersey komunitas, sepatu “ghoib”, dan Strava — bukan demi kesehatan, tapi demi eksistensi. Ada apa di balik tren ini?
KOSONGSATU.ID — Sabtu pagi di kawasan car free day Jakarta atau Surabaya bukan lagi sekadar ruang olahraga. Ia berubah menjadi panggung. Ratusan orang mengenakan jersey komunitas berlogo minimalis, sepatu lari berteknologi karbon, dan jam tangan pintar — lalu mendokumentasikannya di Instagram sebelum minum kopi bersama setelah sesi selesai.
Budaya lari di Indonesia 2026 telah mengalami pergeseran makna yang mendasar. Olahraga yang dulu identik dengan aktivitas murah dan sederhana kini menjadi medium pembentukan identitas — terutama di kalangan anak muda perkotaan.
Dari Kebugaran ke Identitas
Fenomena ini melahirkan istilah pelari kalcer — singkatan dari “kultural”. Pelari kalcer bukan hanya berlari untuk menjaga tubuh, tetapi membawa serta simbol-simbol pendukung: outfit estetik, sepatu bermerek, data Strava yang dipublikasi rutin, hingga keanggotaan komunitas tertentu.
Dari sudut pandang sosiologis, sepatu lari mahal bukan lagi sekadar perangkat performa. Ia menjadi pernyataan identitas dan validitas sosial — apa yang oleh ekonom Thorstein Veblen disebut sebagai konsumsi mencolok (conspicuous consumption).
Komunitas lari pun berkembang menjadi ekosistem sosial tersendiri. Banyak klub kini menetapkan kurasi anggota dan jadwal latihan rutin, bahkan berkolaborasi dengan merek gaya hidup. Relasi profesional terjalin di sela long run, peluang bisnis dibicarakan selepas sesi interval. Bergabung dengan komunitas tertentu, dengan kata lain, berarti menambah modal sosial.
Sepatu “Ghoib” dan Ekonomi Kelangkaan
Sisi konsumsi tren ini paling terlihat dari fenomena sepatu lokal yang dijuluki “ghoib” — produk yang ludes dalam hitungan menit setiap kali restock dilakukan. Banyak pelari rela mengikuti war pembelian daring demi mendapatkan pasang sepatu incaran mereka. Kelangkaan justru meningkatkan nilai simbolik produk tersebut.
Di sisi lain, TikTok dan Instagram menjadi mesin penguat tren ini. Konten soal rekomendasi sepatu, outfit running, hingga aktivitas komunitas membentuk citra lari sebagai gaya hidup modern yang aspirasional — bukan sekadar olahraga.
Sepanjang 2026, kalender event lari Indonesia pun semakin padat: dari fun run 5K bertema nostalgia hingga marathon kelas dunia di Bali yang menyandang label World Athletics Elite Label Road Race. Ini bukan kebetulan — event lari telah menjadi arena pertunjukan identitas yang dirayakan bersama.




Tinggalkan Balasan