Di tengah popularitas intermittent fasting sebagai strategi menurunkan berat badan, puasa Ramadan hadir bukan sebagai metode diet, melainkan disiplin spiritual yang kebetulan berdampak pada metabolisme tubuh.


KOSONGSATU.ID—Sekilas, keduanya tampak serupa: sama-sama menahan makan dalam rentang waktu tertentu. Namun, di balik pola yang mirip, terdapat landasan yang berbeda. 

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, menegaskan perbedaan mendasar itu terletak pada niat dan orientasi.

Puasa Ramadan, katanya, bertumpu pada ibadah. Sementara intermittent fasting lahir dari pendekatan kesehatan—mengatur berat badan, memperbaiki sensitivitas insulin, hingga mengoptimalkan metabolisme. “Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sedangkan intermittent fasting diterapkan untuk tujuan kesehatan,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Aturan yang Tampak Mirip, Disiplin yang Berbeda

Perbedaan niat itu berimbas pada aturan teknis. Ramadan menetapkan batas tegas: dari sahur hingga berbuka—sekitar 13 hingga 14 jam di Indonesia—tidak ada makanan maupun minuman yang masuk ke tubuh. Sebaliknya, dalam intermittent fasting, masih diperbolehkan konsumsi minuman nonkalori seperti air putih atau kopi tanpa gula.

Polanya pun fleksibel: 16:8, 5:2, hingga satu kali makan sehari. Ramadan relatif seragam dan kolektif, sementara intermittent fasting bersifat personal dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Respons Metabolisme Tubuh

Dari sisi fisiologis, tubuh merespons keduanya dengan mekanisme yang relatif sama. Saat asupan berhenti, cadangan glikogen dalam hati dipecah menjadi glukosa. Tubuh belajar mengelola energi secara efisien dan sensitivitas insulin meningkat, yang berdampak baik pada pengendalian gula darah.

Mahmud menjelaskan, tubuh memiliki ritme biologis alami dalam mencerna makanan—sekitar tiga hingga enam jam untuk satu siklus. Ketika jeda makan diperpanjang, tubuh memasuki fase adaptasi metabolik. Di situlah potensi manfaat kesehatan muncul.