“Berdasarkan data sumber primer, dapat dipastikan bahwa masa kecil Sukarno ada di Desa Ploso, Jombang.”


KOSONGSATU.ID—Pernyataan di atas dilontarkan oleh Prof. Yon Machmudi, sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), dalam forum diskusi bertajuk “Ploso Bumi Lahir dan Masa Kecil Bung Karno” yang diselenggarakan oleh IKA SMADA Jombang dan Pemerintah Kabupaten Jombang pada Sabtu (13/7).

Dalam forum tersebut, Prof. Yon memaparkan bahwa, dalam dunia keilmuan sejarah, setiap klaim harus melalui proses yang ketat: mulai dari pengumpulan data, kritik sumber, validasi, hingga interpretasi.

Ia menggarisbawahi bahwa banyak penelusuran sejarah hanya didasarkan pada narasi, tanpa dokumen administratif pendukung.

Namun, untuk kasus Ploso, Jombang, Yon menyebut ada dokumen yang sangat penting: surat penugasan Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah Bung Karno, di Ploso sejak akhir Desember 1902.

“Dari dokumen itu, kita bisa menafsirkan bahwa Soekarno lahir di sini. Data administratif ini sangat kuat,” ujarnya.

Prof. Yon Machmudi (duduk di depan, dua dari kanan) dalam Forum Diskusi Terfokus bertema “Ploso Bumi Lahir dan Masa Kecil Bung Karno”. | FOTO: Istimewa

Bersama para tokoh lain, seperti Prof. Ganjar Razuni dari Universitas Nasional dan tim TACB Jombang, forum tersebut mendorong pengakuan Ploso bukan sekadar tempat singgah keluarga Bung Karno, tetapi sebagai situs kelahiran proklamator.

Prof. Yon juga menekankan pentingnya kritik sumber dalam menulis sejarah. Ia menyampaikan kekhawatiran atas penulisan ulang Sejarah Nasional oleh Kemenbud yang tidak mengundang pelaku atau saksi sejarah dari masyarakat.

“Kalau kita tidak hati-hati, bisa-bisa sejarah nasional kehilangan jejak akar nyatanya,” ujarnya.

Di sisi lain, forum ini disambut hangat oleh pemerintah daerah. Ketua DPRD Jombang Hadi Atmaji dan Tim Ahli Bupati Medan Amrullah sepakat untuk menjadikan hasil diskusi ini sebagai rujukan dalam menetapkan kebijakan sejarah lokal yang lebih kuat.

“Akan ada rekomendasi kepada bupati. Kita akan kawal,” tegas Medan.

Dengan argumen kuat dan data primer yang lengkap, suara Prof. Yon Machmudi menjadi pendorong agar sejarah tak hanya milik pusat. Sejarah, katanya, harus ditulis dengan hati, tapi disusun dengan data.

Dan Ploso, dalam terang pandangannya, tak lagi hanya bagian dari cerita lokal, tapi sebuah halaman penting dari Indonesia yang lama tertinggal.*