Kajian terbaru menyoroti tekanan pusat data terhadap pasokan air setempat. Persoalannya bukan hanya berapa banyak air yang digunakan, tetapi juga dari mana air diambil dan kapan kebutuhan mencapai puncaknya.
KOSONGSATU.ID – Pertumbuhan kecerdasan buatan atau AI membawa kebutuhan yang tidak terlihat di layar pengguna: air untuk membantu mendinginkan perangkat komputasi dan menghasilkan listrik yang memasoknya.
Dalam analisis yang diumumkan pada 7 Oktober 2026, Pacific Institute mengingatkan bahwa dampak penggunaan air pusat data terutama dirasakan masyarakat di sekitar fasilitas. Kebutuhan air dapat memuncak pada periode panas dan kering, ketika pasokan terbatas dan kebutuhan pengguna lain juga meningkat.
Lembaga penelitian tersebut menyebut keterbatasan transparansi dan pelaporan yang belum seragam menyulitkan penilaian dampak. Penggunaan air pun berbeda tajam antara satu fasilitas dan fasilitas lainnya.
Mengapa AI membutuhkan air?
Perangkat yang menjalankan komputasi menghasilkan panas. Pusat data harus membuang panas tersebut agar perangkat tetap beroperasi pada suhu yang sesuai.
Salah satu caranya adalah pendinginan evaporatif. Sistem ini memanfaatkan penguapan air untuk membuang panas, sehingga sebagian air tidak kembali tersedia di sumber asalnya.
Namun, tidak semua pusat data memakai metode yang sama. Sistem pendinginan cair juga dapat menggunakan sirkuit tertutup, sementara cara membuang panas dari fasilitas menentukan apakah penguapan tetap diperlukan. Departemen Energi Amerika Serikat memperlihatkan bahwa sirkuit cair tertutup dapat terhubung dengan menara pendingin.
Selain kebutuhan langsung, jejak air pusat data mencakup pembangkitan listrik dan pembuatan perangkat. Pacific Institute menyebut penggunaan tidak langsung ini kerap luput dari pelaporan.
Benarkah AI membutuhkan 6,6 triliun liter?
Penelitian Making AI Less “Thirsty” memperkirakan kebutuhan AI global dapat menyebabkan pengambilan air sebesar 4,2–6,6 miliar meter kubik pada 2027, setara 4,2–6,6 triliun liter.
Angka itu adalah proyeksi pengambilan air, bukan seluruhnya air yang habis dikonsumsi. Penelitian tersebut mencakup kebutuhan langsung pusat data dan kebutuhan terkait pembangkitan listrik.
Pengambilan berarti air dikeluarkan dari sumber untuk digunakan; sebagian dapat dikembalikan. Konsumsi merujuk pada bagian yang tidak segera kembali tersedia dalam wilayah sumbernya, misalnya akibat penguapan.
Karena itu, angka 6,6 triliun liter tidak tepat ditulis sebagai volume air yang seluruhnya habis. Proyeksi tersebut juga belum merupakan pengukuran penggunaan aktual pada 2027.
Pendinginan lebih hemat, tetapi apa batasnya?
Microsoft melaporkan rata-rata Water Usage Effectiveness atau WUE sebesar 0,27 liter per kilowatt-jam pada tahun fiskal 2025. Data itu mencakup pusat data yang dimiliki dan dikendalikan penuh perusahaan serta telah beroperasi selama 12 bulan.
WUE membandingkan air untuk pendinginan dan pengaturan kelembapan dengan listrik yang digunakan perangkat teknologi informasi. Angka ini mengukur intensitas penggunaan, sehingga perlu dibaca bersama volume air total.
Pada Juni 2026, Microsoft juga menjelaskan desain pendinginan langsung ke chip dengan sirkuit tertutup yang menghilangkan penguapan air untuk pendinginan operasional. Klaim tersebut memiliki batas cakupan: jejak air dari listrik dan pembuatan perangkat tetap perlu diperhitungkan.
Dampaknya bergantung pada lokasi
Volume global belum cukup menjelaskan risiko bagi masyarakat. Fasilitas di wilayah kekurangan air dapat menghadapi persoalan berbeda dari pusat data dengan pasokan lebih melimpah.
Pacific Institute menekankan perlunya data mengenai lokasi, ukuran fasilitas, penggunaan air, dan kebutuhan energi. Informasi tersebut membantu masyarakat dan pengelola air menilai apakah pasokan mampu memenuhi kebutuhan pusat data sekaligus pengguna lainnya.***




Tinggalkan Balasan