Rumah untuk Bagus menjadi unit ke-59 dalam program Rumah Syukur OPSHID untuk memperingati Sumpah Pemuda ke-98. Pembangunan ditargetkan selesai sebelum 28 Oktober 2026.
KOSONGSATU.ID — Nimas Bagus Imam Triantoro, pemuda berusia 20 tahun di Kabupaten Ngawi, mendapat bantuan pembangunan rumah setelah sekitar empat tahun tinggal seorang diri di hunian yang tidak layak.
Rumah untuk lulusan SMK yang bekerja serabutan itu dibangun melalui program Rumah Syukur Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID). Peletakan batu pertama berlangsung pada Senin, 28 September 2026, di Dusun Barahan, Desa Banjaransari, Kecamatan Padas.
Menurut laporan OPSHID Media pada 29 September, pembangunan tidak membebankan biaya kepada Bagus. Penambahan rumah tersebut membawa jumlah unit dalam rangkaian program Sumpah Pemuda tahun ini menjadi 59.
Kehilangan orang tua sejak sekolah
Ayah Bagus meninggal akibat stroke ketika ia hendak masuk taman kanak-kanak. Setelah itu, ibunya menghidupi keluarga dengan bekerja sebagai tukang pijat.
Ketika Bagus duduk di kelas III SMP, ibunya meninggal akibat kanker. Dua kakak perempuannya telah berkeluarga dan tinggal bersama keluarga masing-masing.
Bagus kemudian tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya. Laporan OPSHID Media menyebut kayu bangunan telah lapuk dimakan rayap, sementara sejumlah genteng rusak dan berlubang. Penghasilannya dari pekerjaan serabutan membatasi kemampuan untuk memperbaiki rumah.
Gotong royong untuk menyediakan hunian
Pembangunan melibatkan anggota OPSHID Ngawi, keluarga, dan masyarakat sekitar. Rumah tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang oleh penyelenggara dimaknai sebagai ungkapan syukur atas Sumpah Pemuda.
Peletakan batu pertama di Ngawi berlangsung setelah kegiatan awal program di sejumlah daerah lain. Namun, rumah untuk Bagus tetap masuk dalam rangkaian pembangunan tahun ini.
Dalam laporan bertanggal 1 Oktober 2026, OPSHID menyatakan 59 rumah ditargetkan rampung sebelum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Peresmiannya direncanakan melalui seremoni di Ploso, Jombang, Jawa Timur. Angka tersebut merupakan jumlah unit program, bukan konfirmasi bahwa seluruh rumah sudah selesai.
Harapan yang melampaui pembangunan rumah
Perwakilan DPP OPSHID, Mulyono, mengatakan penyediaan rumah dipilih karena manfaatnya dapat dirasakan keluarga dalam jangka panjang.
“Rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, dan bisa diwariskan generasi ke generasi,” ujarnya, seperti dikutip OPSHID Media.
Ia berharap bantuan tersebut meningkatkan kenyamanan hidup penerima dan membantu memutus rantai kemiskinan. Harapan itu merupakan tujuan penyelenggara; dampak ekonomi setelah penerima menempati rumah belum dijelaskan dalam laporan tersebut.
Bagi Bagus, pembangunan ini menjawab kebutuhan yang lebih dekat: mengganti rumah yang rusak dengan tempat tinggal layak. Gotong royong warga menjadi cara untuk mewujudkannya, sekaligus bentuk peringatan Sumpah Pemuda melalui kegiatan sosial.***




Tinggalkan Balasan