Namun sejumlah kapal masih menghindari jalur utama karena ancaman ranjau. Pelayaran juga menggunakan rute sementara di perairan Iran dan Oman, sementara jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah rata-rata sebelum konflik. Pemulihan berlangsung di tengah pengawalan militer dan risiko keamanan yang belum sepenuhnya reda.

Pada 20 Juni, Garda Revolusi Iran sempat mengumumkan kembali penutupan selat menyusul ketegangan di Lebanon. Namun Komando Pusat AS menyatakan 55 kapal dagang tetap melintas dengan muatan lebih dari 17 juta barel minyak.

Bagi Indonesia, perkembangan itu tetap penting. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya memperkirakan sekitar 19 persen kebutuhan minyak nasional berasal dari pasokan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Pemerintah telah menyiapkan pengalihan sebagian impor minyak mentah dari kawasan tersebut ke negara lain. Namun, terbukanya kembali jalur pelayaran setidaknya mengurangi tekanan terhadap pasokan energi dan harga minyak dibanding puncak konflik pada Maret lalu.***