PT Pertamina Patra Niaga memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional aman di tengah isu kelangkaan yang memicu panic buying di sejumlah daerah. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian berlebihan.
KOSONGSATU.ID—Isu menipisnya cadangan BBM nasional memicu gelombang kepanikan di berbagai daerah pada awal Maret 2026. Antrean kendaraan mengular terlihat di sejumlah SPBU, mulai dari Sumatera Utara, Aceh, hingga Jawa Timur.
Kepanikan massal ini bermula dari pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada Rabu (4/3/2026). Ia menyebut cadangan stok BBM nasional berada di kisaran 21 hingga 23 hari.
“Jadi standar nasionalnya minimal itu di 20—21 hari, maksimal 25 hari. Nah, kita itu di sekitar itu di rapat sama Pertamina dan DEN itu rata-rata 22—23 hari,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan.
Publik menafsirkan angka tersebut sebagai indikasi BBM akan habis total dalam 20 hari ke depan. Apalagi saat itu harga minyak mentah global melonjak akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
Klarifikasi Pemerintah dan Pertamina
Pemerintah dan Pertamina bergerak cepat meredam histeria massa. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan bahwa angka 21 hari adalah standar normal cadangan operasional.
“Stok sekitar 21 hari yang dikelola Pertamina Patra Niaga merupakan stok BBM yang secara normal selalu dijaga dalam sistem logistik energi nasional,” jelas Roberth, Jumat (6/3/2026).
Ia menambahkan, stok tersebut terus diisi ulang melalui produksi dari kilang domestik maupun pengadaan impor. “Stok ini terus dilakukan top-up atau penambahan produk,” tegasnya.
Stok Terus Ditambah, Harga Bersubsidi Aman
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, pada hari yang sama meminta masyarakat tidak mudah terpancing isu liar. “Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying, tidak melakukan penimbunan yang nantinya justru bisa menyebabkan kelangkaan,” ujarnya.
Pemerintah menjamin ketersediaan energi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dipastikan tidak akan naik meskipun terjadi gejolak harga minyak global.
Pembelian berlebihan secara mendadak justru berisiko mengganggu distribusi rantai pasok di tingkat hilir. Sistem logistik nasional dipastikan berjalan normal dan stok aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.***




Tinggalkan Balasan