Serangan drone murah mengubah logika perang: ancaman berbiaya rendah kini mampu menekan pertahanan mahal milik negara adidaya.


KOSONGSATU.ID Serangan drone dan rudal berbiaya rendah yang menghantam instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah menegaskan satu perubahan besar dalam perang modern: Keunggulan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang memiliki anggaran pertahanan terbesar, melainkan juga oleh siapa yang mampu menghadirkan ancaman murah, massal, dan sulit dihentikan.

Perubahan itu terlihat dari meningkatnya tekanan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan sejak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas.

Associated Press melaporkan, dalam salah satu serangan terbaru ke Prince Sultan Air Base di Arab Saudi pada 27 Maret 2026, Iran meluncurkan enam rudal balistik dan 29 drone. Serangan tersebut melukai 10 hingga 15 personel militer Amerika Serikat, beberapa di antaranya mengalami luka serius, serta merusak sejumlah pesawat pengisian bahan bakar.

Pangkalan itu sendiri disebut telah tiga kali diserang dalam sepekan.

Data yang dihimpun AP juga menunjukkan tekanan terhadap pasukan AS di Timur Tengah terus meningkat.

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 hingga 28 Maret 2026, lebih dari 300 personel Amerika Serikat dilaporkan terluka.

Dalam periode yang sama, 13 personel AS dilaporkan tewas dalam berbagai insiden terkait konflik, termasuk akibat serangan drone dan peristiwa lain di Kuwait serta Irak.

Biaya Murah, Tekanan Besar

Perkembangan ini menjelaskan mengapa drone murah menjadi perhatian besar dalam strategi militer saat ini.

Reuters melaporkan pada 20 Maret 2026 bahwa sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Yordania, meminta bantuan teknis dari Ukraina untuk menghadapi ancaman drone murah tipe Shahed.

Negara-negara tersebut memang memiliki sistem pertahanan udara canggih buatan Amerika Serikat, tetapi rudal pencegat yang mereka gunakan jumlahnya terbatas dan biayanya jauh lebih mahal dibanding drone penyerang.

Persoalan biaya inilah yang kini menjadi inti dari perubahan logika perang.

Analisis Center for Strategic and International Studies atau CSIS yang terbit pada Februari 2025 menunjukkan bahwa serangan presisi menggunakan drone tipe Shahed menelan biaya sekitar USD350 ribu per target.

Sebaliknya, opsi rudal yang dinilai paling hemat sekalipun masih berada di kisaran sekitar USD1 juta per target. CSIS juga mencatat satu rudal pencegat Patriot PAC-3 bernilai lebih dari USD3 juta, sementara beberapa sistem pencegat lain juga tetap jauh lebih mahal dibanding drone penyerang.

Kesenjangan ini membuat pihak bertahan berada dalam posisi sulit. Setiap kali drone murah datang dalam jumlah besar, lawan dipaksa memilih antara membiarkan ancaman lolos atau menembaknya dengan sistem pencegat yang jauh lebih mahal.

Dalam jangka panjang, model serangan seperti itu bukan hanya menguji pertahanan, tetapi juga menguras anggaran, stok rudal, dan kesiapan tempur.

Reuters menegaskan pengalaman perang di Ukraina telah memperlihatkan bahwa serangan drone murah bisa memaksa negara yang diserang menggunakan sumber daya pertahanan yang mahal secara terus-menerus.