Tensi geopolitik Timur Tengah kian liar, Ketua Lemhannas kini mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi utuh Board of Peace.


KOSONGSATU. ID – ​Perubahan drastis situasi geopolitik akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memaksa pemerintah untuk memikirkan ulang berbagai instrumen diplomasi. Kondisi ini semakin kompleks setelah perseteruan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kian meruncing.

​Menyikapi hal tersebut, Gubernur Lemhannas sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, TB Ace Hasan Syadzily, menilai pemerintah perlu mengevaluasi kembali posisi dan efektivitas Board of Peace (BoP). Langkah ini menjadi krusial agar diplomasi Indonesia tetap relevan dan berdampak di kancah global.

​Eskalasi Konflik dan Nasib BoP

​Ketegangan yang melibatkan negara-negara besar di Timur Tengah membawa dampak langsung pada stabilitas dunia. TB Ace menyoroti bahwa perubahan peta konflik ini menuntut respons yang cepat dan taktis dari Indonesia.

​“Keberadaan BoP sendiri saya kira perlu dikaji lebih lanjut disebabkan karena situasi geopolitik akibat dari perang Iran-Israel-Amerika versus Iran yang membuat situasi semakin tidak menentu,” kata TB Ace kepada wartawan di Jakarta, Ahad (24/5/2026).

​Pernyataan tersebut mencerminkan urgensi pemerintah untuk mencermati ulang langkah diplomasi di tengah situasi kawasan yang semakin memanas. Evaluasi terhadap BoP bukan berarti Indonesia mundur dari upaya perdamaian, melainkan mencari formula baru yang jauh lebih taktis.

​Kecam Pelanggaran Hukum Humaniter

​Desakan evaluasi ini mengemuka bertepatan dengan kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI). Mereka adalah relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang sempat tertahan oleh otoritas Israel. Para pejuang kemanusiaan ini akhirnya tiba dengan selamat di Tanah Air pada hari yang sama.

​Menanggapi insiden tersebut, TB Ace mengecam keras tindakan penyekapan terhadap jurnalis dan aktivis kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa aksi semacam itu jelas menabrak batas-batas kemanusiaan.