Tiga Pilar Pembentukan Karakter
Materi BINLAT disusun berdasarkan tiga pilar utama, yakni spiritual, intelektual, dan kultural. Ketiganya diposisikan sebagai satu kesatuan dalam membentuk jati diri bangsa.
“Spiritual tanpa intelektual melahirkan kepatuhan buta. Intelektual tanpa spiritual melahirkan kekosongan nilai. Karena itu, ketiganya harus manunggal,” kata Kushartono.
Pembelajaran merujuk pada buku Jati Diri Bangsa: Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi Sang Mujadid Rasa Wawasan Karsa Kebangsaan terbitan Organisasi Shiddiqiyyah bekerja sama dengan Kompas. Para instruktur tergabung dalam Perkumpulan Instruktur Pegiat Jati Diri Bangsa Indonesia.
Refleksi di Ruang Sejarah
Lokasi pelatihan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Situs Ndalem Pojok dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk mengaitkan sejarah, nilai, dan pengalaman personal peserta.

Tika, mahasiswa asal Jombang, mengaku sesi refleksi di kawasan tersebut memberi pengalaman mendalam. “Saya menemukan makna diri saat berada di tempat Bung Karno belajar pidato. Bukan hanya sejarah, tapi perenungan,” ujarnya.
Menuju Model Pendidikan Alternatif
Panitia melibatkan tim monitoring dan evaluasi dari unsur pemerintah, kepolisian, akademisi, dan tokoh masyarakat. Langkah ini ditempuh untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program.
“Respons peserta sangat positif. Ini menunjukkan pendidikan karakter berbasis rasa masih relevan dan dibutuhkan,” kata Budiono, panitia pelaksana.
BINLAT Jati Diri Bangsa diproyeksikan menjadi model pendidikan alternatif yang menempatkan kesadaran, nilai, dan identitas kebangsaan sebagai fondasi pembentukan generasi Indonesia Emas 2045.***




Tinggalkan Balasan