Pemerintah mendorong proyek nuklir masuk PSN agar cepat terealisasi.


KOSONGSATU.ID—​Rencana besar Indonesia untuk mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama kini memasuki babak krusial. Pemerintah pusat terus menggenjot berbagai persiapan administratif dan teknis guna mengejar target ambisius operasional komersial pada tahun 2032 mendatang.

Salah satu langkah strategis yang baru saja diambil adalah dorongan kuat dari Dewan Energi Nasional (DEN) pada Selasa, 3 Maret 2026, untuk memasukkan mega proyek energi ini ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

​Masuknya PLTN ke dalam ekosistem PSN diyakini akan menjadi kunci pembuka berbagai kebuntuan birokrasi. Hal ini diprediksi bakal memangkas proses perizinan lintas kementerian, yang selama ini kerap menjadi hambatan utama dalam pembangunan infrastruktur energi berskala masif di Tanah Air.

​Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, pada Selasa (3/3/2026), menyatakan pentingnya status PSN bagi masa depan energi nuklir Indonesia.

“Apabila proyek ini dapat dimasukkan ke dalam PSN, tentu akan ada banyak prosedur dan proses yang bisa membuat pengembangan PLTN serta reaktor nuklir kecil dan menengah menjadi jauh lebih mudah,” tuturnya saat memberikan pemaparan dalam acara Workshop SMR Deployment di Jakarta.

Menanti Payung Hukum dan Kepastian

​Sejalan dengan usulan tersebut, payung hukum utama bagi ekosistem nuklir nasional kini tinggal selangkah lagi. Draf Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pembentukan Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO) telah berada di atas meja Presiden sejak Februari 2026 dan hanya tinggal menunggu ketukan palu.

Pembentukan NEPIO sendiri sebelumnya telah diumumkan secara resmi oleh pemerintah RI di markas International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina pada September 2024 silam.

​Sementara itu, target operasional sudah dikunci rapat di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Pemerintah membidik kapasitas awal sebesar 500 Megawatt (MW) yang akan disalurkan ke jaringan listrik nasional.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dalam sebuah siniar resmi kementerian pada Februari 2026, menegaskan linimasa yang sangat ketat ini. “On-grid-nya 2032. Jadi masuk grid 2032 berarti harus sudah commissioning 2032. Ini target tercepat. Nah dari perencanaan nuklir ada 500 megawatt,” ungkap Eniya.

​Tantangan di depan mata kini berpusat pada penyiapan konstruksi dan penerimaan masyarakat. Pembangunan PLTN membutuhkan tenaga ahli yang sangat spesifik. Setidaknya 200 tenaga kerja inti bidang nuklir dan fisika mutlak diperlukan untuk mengoperasikan satu unit reaktor.

Jika peletakan batu pertama tidak segera dilakukan sebelum tahun 2027, pemerintah dipastikan harus bekerja ekstra keras agar target on-grid di tahun 2032 tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.***