Alasannya konkret: PLTN dinilai cuma menyumbang 2-4 persen kebutuhan energi nasional, sementara risiko limbah radioaktifnya dianggap terlalu besar.

Sikap ini didukung Walhi, Greenpeace, dan partai PKB. Sejak saat itu, Muria praktis dicoret dari peta rencana nuklir Indonesia.

Muria sebagai Cermin untuk Bangka

Sejarah Muria penting dibaca ulang justru saat pemerintah kembali mengejar target 2032 untuk PLTN Bangka.

Sejumlah ahli sudah mengingatkan rencana ini berisiko dan kurang realistis, mengingat kesiapan teknologi, regulasi, dan kepercayaan publik masih jadi pertanyaan besar.

Polanya cukup jelas berulang. Indonesia sudah tiga kali serius menggarap wacana PLTN: era 1970-an, era 1990-an yang nyaris terealisasi, dan era 2000-an yang kandas.

Setiap kali proyek ini gagal, penyebabnya bukan cuma soal fisibilitas teknis, tapi kombinasi guncangan ekonomi-politik dan legitimasi sosial yang rapuh.

Ironisnya, dunia hari ini justru bergerak makin cepat ke nuklir lewat SMR yang diklaim lebih murah dan aman dibanding reaktor konvensional era Muria dulu.

Pertanyaannya untuk Bangka bukan lagi soal bisa atau tidaknya reaktor dibangun secara teknis, melainkan apakah pemerintah sudah belajar dari kegagalan Muria.***

Rujukan:

  1. Jejak Nuklir di Semenanjung Muria – Majalah Tambang
  2. InfoPublik – Sejarah Perjalanan Indonesia Menuju Implementasi PLTN
  3. Menggugat Nuklir Gunung Muria – LIPI
  4. Masyarakat Jepara Unjukrasa Tolak PLTN Semenanjung Muria – Republika
  5. Program Nuklir Indonesia – Wikipedia
  6. Rencana RI Punya Pembangkit Nuklir Makin Nyata – CNBC Indonesia
  7. Target Energi Nuklir Indonesia 2032, Mungkinkah? – CNN Indonesia
  8. Para Ahli Sebut Rencana Proyek PLTN Tak Realistis dan Berbahaya – Mongabay
  9. Plans For New Reactors Worldwide – World Nuclear Association
  10. Small Modular Reactor (SMR) Global Project Tracker – World Nuclear Association