KH. Huryani, sang putra, menceritakan bahwa banyak warga Tionghoa justru meminta foto KH. Darip untuk ditempel di pintu rumah mereka. Foto itu menjadi “jimat” pengaman agar para bandit tak berani merampok toko mereka. KH. Darip adalah pelindung, bukan pemeras.

Kesetiaan hingga Akhir Hayat

Kesetiaan KH. Darip kepada Bung Karno melintasi zaman perang. Bahkan saat Sukarno didera masalah pemberontakan DI/TII, ia mengirim surat pribadi meminta bantuan sang sahabat dari Klender. Namun, KH. Darip tetaplah sosok yang bersahaja. Meski menyandang pangkat Letnan Kolonel Tituler, ia menolak tampil di panggung kekuasaan.

Di masa tua, ia memilih kembali berdagang kain sarung dan kelontong di Pasar Klender. Ia bahkan rela tunjangan pensiunnya dicabut dan rumahnya tergusur, asalkan tetap bisa berjuang Lillahi Ta’ala.

“Perjuangan yang saya baktikan bukan untuk dibicarakan, saya berjuang semata-mata demi kemerdekaan bangsa dan negara,” tutur KH. Darip semasa hidupnya.

KH. Darip adalah bukti bahwa kepahlawanan sejati tidak selalu mengejar medali. Ia wafat pada 13 Juni 1981 dan memilih dimakamkan di TPU Arrahman, Klender, menolak kehormatan di TMP Kalibata demi memenuhi wasiatnya untuk tetap dekat dengan rakyat yang ia bela.

Kini, namanya abadi sebagai nama jalan di Jakarta Timur, mengingatkan kita pada sosok “Bestie” Sukarno yang tak pernah mau menagih jasa pada negara.***


Daftar Pustaka

  1. Dinas Historiografi dan Dokumentasi (DHD) Angkatan 45 DKI Jakarta. Catatan Sejarah Perjuangan KH. Darip Klender.
  2. Cribb, Robert. (1991). Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949. Asian Studies Association of Australia.
  3. Wawancara Titiek WS. (1976). Arsip Suara KH. Darip. Museum Gedung Juang 45 Menteng 31, Jakarta.
  4. Dokumentasi Keluarga KH. Darip (KH. Huryani/Ustadz Uung).