KH. Darip bukan sekadar ulama. Ia adalah “Panglima dari Klender”, benteng hidup Bung Karno yang berjuang tanpa mengharap imbalan.
KOSONGSATU. ID – Ketangguhan karakternya ini sejatinya tidak tumbuh dalam semalam, melainkan berakar jauh sejak masa pertumbuhannya di tanah kelahiran.
Lahir di Klender pada 1886, KH. Muhammad Arif atau yang akrab disapa KH. Darip tumbuh tanpa mengecap bangku sekolah formal. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menjadi cendekiawan.
Ia belajar membaca dan menulis dari kawan-kawannya sebelum akhirnya memperdalam ilmu agama selama empat tahun di Mekah dan Madinah.
Sekembalinya ke tanah air, ia tak hanya berdakwah di musholla kecil yang kini menjadi Masjid Al Makmur. Ia membawa semangat perlawanan. Hubungannya dengan Sukarno terjalin erat dalam gerakan bawah tanah di kawasan Tanjung Priok hingga Cilincing.
Bersama KH. Muhammad Yusuf dari Depok—guru spiritual Bung Karno—KH. Darip bahkan nekat menyerang markas batalion Belanda di Lapangan Banteng pada 1941.
Benteng Pangan dan Nyali di Rengasdengklok
Saat pendudukan Jepang membawa kelaparan bagi rakyat Jakarta, KH. Darip bergerak cepat. Ia menghimpun ulama, jawara, hingga narapidana Cipinang untuk melawan. Prinsipnya tegas: “Mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman.”
Nama KH. Darip tercatat dalam sejarah genting jelang Proklamasi. Ia menjadi saksi hidup peristiwa Rengasdengklok. Menariknya, naluri kemanusiaannya muncul saat melihat Sukarno-Hatta ditempatkan di rumah pinggir kali yang tidak layak.
Ia mendesak para pemuda agar memindahkan dua tokoh bangsa tersebut ke rumah yang lebih terhormat milik Djiaw Kie Siong.
Tak hanya itu, ia menjadikan Klender sebagai lumbung logistik. Ia memblokir gudang-gudang beras agar rakyat tidak kelaparan dan pasukan memiliki energi untuk bertempur. Klender di bawah komandonya adalah wilayah pertahanan yang mandiri.

Laskar BARA dan Kontroversi sang Panglima
Pasca Proklamasi, KH. Darip membentuk Barisan Rakyat Indonesia (BARA). Pasukan ini menjadi momok bagi tentara NICA dan Sekutu. Sebagai pemimpin, ia mendapat julukan ‘Panglima Perang dari Klender’. Meski sejarawan Robert Cribb sempat memberikan catatan miring mengenai aksi BARA terhadap etnis tertentu, keluarga sang Kyai membantahnya dengan fakta menarik.




Tinggalkan Balasan