Di tanah kelahirannya sendiri, Natal 2025 datang bukan sebagai pesta, melainkan sebagai kesaksian sunyi tentang iman yang bertahan di tengah perang dan pendudukan.

KOSONGSATU.ID—Di Palestina, umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus—Isa Al Masih—di barak-barak pengungsian, di bawah langit yang masih dilintasi pelanggaran gencatan senjata, dan di bawah bayang-bayang operasi militer Israel. Dua tahun tanpa perayaan publik telah mengubah Natal menjadi sesuatu yang lebih telanjang: doa tanpa dekorasi, harapan tanpa kemewahan.

Namun pada Desember ini, Bethlehem kembali menjadi pusat peringatan Natal. Kota itu tidak sepenuhnya pulih; ia hanya kembali membuka dirinya—dengan luka yang belum sembuh—untuk mengingatkan dunia di mana kisah ini bermula.

Natal Bukan Cerita Barat

Bagi Munther Isaac, pendeta dan teolog Palestina, Natal bukanlah kisah Barat yang lahir dari musim dingin Eropa. Dalam refleksinya yang dimuat Al Jazeera (24/12/2025), Munther menegaskan: Kekristenan adalah agama Asia Barat—agama Timur Tengah—yang berakar pada geografi, bahasa, dan struktur sosial Palestina.

Ia menolak anggapan populer tentang “nilai-nilai Kristen Barat” atau “peradaban Yahudi-Kristen” yang sering diperlakukan seolah-olah iman ini lahir dari Eropa. “Tidak,” tulisnya singkat dan tegas. Barat menerima Kekristenan; ia tidak melahirkannya.

Natal, dalam pengertian aslinya, adalah kisah seorang Yahudi Palestina yang lahir di bawah kekuasaan kekaisaran, jauh sebelum batas-batas negara modern dibentuk. Jarak antara asal-usul ini dan ekspresi Natal Barat hari ini—yang dipenuhi lampu, belanja, dan nostalgia—menjadi semakin mencolok.

Ketika Natal Menjadi Pasar

Munther menyebut Natal di Barat telah berubah menjadi pasar budaya. Ia dikomersialkan, diromantisasi, dan dilucuti dari inti moralnya. Kepedulian terhadap orang miskin tertutup oleh hadiah mewah; keheningan spiritual digantikan oleh hiruk-pikuk konsumsi.

Bahkan lagu Silent Night, katanya, mengaburkan kenyataan: Yesus tidak lahir dalam ketenangan, melainkan di tengah pergolakan. Ia lahir di bawah pendudukan militer; keluarganya terdorong oleh kebijakan kekaisaran; dan mereka akhirnya menjadi pengungsi, melarikan diri dari pembantaian yang diperintahkan penguasa.

Natal, tulis Munther, adalah kisah tentang kekaisaran, ketidakadilan, dan kerentanan orang-orang biasa yang terperangkap di antaranya. Kisah yang, bagi banyak warga Palestina hari ini, terdengar terlalu akrab.

Betlehem Dulu dan Kini

Di imajinasi Kristen global, Betlehem sering hadir sebagai kartu pos beku dari masa lalu—desa kecil yang suci dan sunyi. Padahal Betlehem hari ini adalah kota yang hidup, dikelilingi tembok dan pos pemeriksaan, terfragmentasi oleh sistem pendudukan yang memisahkannya dari Yerusalem dan dari dunia.

Banyak warga Kristiani Palestina, kata Munther, merasa terputus bukan hanya dari kota-kota sekitarnya, tetapi juga dari imajinasi global yang memuliakan Betlehem kuno sambil mengabaikan Betlehem modern. Ironinya tajam: kota kelahiran Yesus dihormati sebagai ide, tetapi penduduknya diabaikan sebagai realitas.

Lebih buruk lagi, sebagian gereja dan politik Barat, menurut Munther, merangkul teologi yang meniadakan keberadaan Kristiani Palestina demi mendukung Israel—kekaisaran kontemporer. Betlehem dipertahankan sebagai simbol, sementara warganya dibiarkan berjuang sendirian.

Solidaritas Ilahi

Apa makna Natal jika dilihat dari perspektif mereka yang masih tinggal di tempat semuanya dimulai?

Bagi Munther, jawabannya sederhana dan radikal: Natal adalah kisah solidaritas Allah. Inkarnasi bukan abstraksi metafisik, melainkan pernyataan politik-teologis tentang di mana Tuhan memilih hadir—di antara yang rentan, miskin, dan diduduki.

Dalam kisah Betlehem, Tuhan tidak berpihak pada kaisar, tetapi pada korban kekaisaran. Ia datang bukan sebagai pejuang, melainkan sebagai bayi. Bukan di istana, tetapi di palungan. Solidaritas ilahi, dalam bentuknya yang paling telanjang.

Bagi warga Palestina hari ini, Natal bukan sekadar doktrin. Ia adalah pengalaman hidup. Kisah sensus yang memaksa Maria dan Yusuf bepergian mengingatkan pada izin, pos pemeriksaan, dan kontrol birokrasi yang membentuk hidup sehari-hari. Pelarian keluarga suci bergema dengan jutaan pengungsi. Kekerasan Herodes menemukan pantulannya dalam kekerasan masa kini—terutama di Gaza, tempat genosida masih berlangsung.

Perayaan sebagai Ketahanan

Betlehem kembali merayakan Natal setelah dua tahun tanpa perayaan publik. Keputusan ini, kata Munther, menyakitkan sekaligus perlu. Tidak ada ilusi bahwa perang telah usai. Anak-anak masih terbunuh. Pengepungan masih berlangsung.

Namun perayaan ini adalah tindakan ketahanan—pernyataan bahwa Kristiani Palestina masih ada, bahwa Betlehem tetap ibu kota Natal, dan bahwa kisah ini tidak boleh diputus. Merayakan Natal di tengah kehancuran bukan pengingkaran atas penderitaan, melainkan penegasan untuk tidak menyerah pada keheningan yang dipaksakan.

Munther mengakhiri refleksinya dengan undangan kepada gereja global, terutama di Barat: ingatlah di mana kisah ini dimulai. Ingatlah bahwa Betlehem bukan mitos, melainkan kota nyata dengan manusia nyata yang masih berseru untuk keadilan, martabat, dan perdamaian.

Mengingat Betlehem, tulisnya, adalah mengingat bahwa Allah berdiri bersama yang tertindas—dan bahwa para pengikut Yesus dipanggil untuk melakukan hal yang sama.***